Pameran Seni Rupa "Stop Masa Bodoh"

Pameran tersebut berlangsung dari 15 hingga 24 Oktober 2015 nanti, dengan menampilkan sebanyak 46 karya seni rupa.

Penulis: abm | Editor: oda
tribunjogja/septiandrimandariana
Pameran seni rupa bertajuk Stop Masa Bodoh , yang diselenggarakan di Bentara Budaya Yogyakarta, berlangsung dari 15 hingga 24 Oktober 2015 nanti. Sebanyak 46 karya Wonny dipamerkan dalam pameran tersebut. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Septiandri Mandariana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Cukup satu hingga dua jam saja ia menyisihkan waktunya untuk membuat sebuah karya.

Dari kesibukannya bekerja di kapal pesiar tak mengurungkan niatnya untuk menorehkan ide-ide kreatifnya menjadi sebuah karya yang tidak bisa diragukan lagi kualitasnya.

Cukup mewarnai seluruh kanvas dengan warna hitam, ia pun langsung menggoreskan idenya dengan menggunakan cutter, sebuah alat yang biasanya dipakai untuk memotong sesuatu.

Ialah Tondo Suryaning Buwono, seorang Stateroom Attendant di sebuah kapal pesiar, yang terus berlayar hingga sembilan bulan lamanya.

Orang kecil, kemiskinan dan segala hal yang memprihatinkan ia potret dalam ingatan, yang langsung ia goreskan pada sebuah kanvas.

"Saya sering sekali melihat penderitaan yang dialami orang-orang sekitar saya. Sebuah warna penderitaan, selalu terngiang dalam pikiran," ungkap seniman otodidak yang biasa disapa Wonny.

Hal itu Wonny katakan kepada Tribun Jogja beberapa waktu lalu di Bentara Budaya Yogyakarta.

Kali ini, Wonny sedang menyelenggarakan pameran tunggal perdananya di Bentara Budaya Yogyakarta, dengan mengambil tema "Stop Masa Bodoh".

Pameran tersebut berlangsung dari 15 hingga 24 Oktober 2015 nanti, dengan menampilkan sebanyak 46 karya seni rupa.

Kini, Wonny sedang berlibur selama enam bulan, dan ia pakai waktu libur tersebut untuk menuntaskan beberapa karya lagi, dan jadilah pameran "Stop Masa Bodoh" ini.

46 karya yang Wonny pamerkan di pameran tersebut sudah diproses sejak tahun 2014 lalu. Terdapat beberapa judul karya yang sangat menyentuh hati setiap orang yang melihatnya.

Di antaranya seperti karya dengan judul "Nyaoske Ati Nggo Nresnani, Ngulungke Tangan Nggo Ngladeni", yang menggambarkan seorang ibu yang sedang menolong seorang nenek tua.

"Itu memori yang saya ingat ketika ibu mertua saya yang sedang mengalami beberapa penyakit seperti diabetes, asam urat dan lainnya, dia menolong seseorang ia rasa lebih sakit dari pada dirinya," tutur Wonny yang sudah mencari ide dari karyanya sejak 2013 lalu.

Menurutnya, hal sekecil itu merupakan sesuatu yang bisa memanusiakan manusia. Pun seperti karya lain berjudul "Bara Di Dada (Tetap Menyala Walau Tersiram Duka)", yang menceritakan seorang anak yang sudah tidak punya kedua orang tua.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved