Gusti Prabu Pertegas Keraton Yogyakarta adalah Mataram Islam
Jelang pemberangkatan ritual lampah budaya Tapa Bisu Mubeng Benteng, GBPH Prabukusumo menegaskan, Keraton Yogya adalah Kerajaan Mataram Islam.
Penulis: had | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, M Nur Huda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Jelang pemberangkatan ritual lampah budaya Tapa Bisu Mubeng Benteng, sebagai peringatan malam 1 Sura atau 1 Muharam, Penghageng Widyo Budoyo Keraton, Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH) Prabukusumo menegaskan, Keraton Yogya adalah Kerajaan Mataram Islam.
“Sejak Keraton berdiri tahun 1755 (Masehi), para leluhur kita semua mendirikan Keraton ini sebagai Kerajaan Mataram Islam,” kata Gusti Prabu di hadapan para Penghageng Keraton, kerabat Keraton, para abdi dalem, dan ribuan warga yang berkumpul di Keben, Komplek Keraton, Rabu (14/10/2015) malam.
Ia juga menyinggung mengenai Sabdaraja yang dikeluarkan Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenai perubahan nama gelar pada 30 April 2015 lalu. Menurutnya, nama gelar tidak bisa berubah sebab itu adalah paugeran.
Seperti diketahui, Sultan melalui Sabdaraja telah mengubah nama gelarnya menjadi Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Sri Sultan Hamengku Bawono Ingkang Jumeneng Kasepuluh Suryaning Mataram Senopati Ing Ngalogo Langgenging Bawono Langgeng Langgenging Tata Panatagama.
Gelar sebelumnya yang juga termaktub dalam Undang Undang Keistimewaan DIY, adalah Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Gelar itu tidak boleh berubah. Ini saya harapkan semua memahami ini,” katanya.
Dijelaskannya, gelar Sayidin Panatagama adalah gelar untuk seorang Sultan yang memiliki arti pemimpin laki-laki Islam yang menata Agama.
Artinya, seorang Sultan dalam mengambil kebijakan baik ucapan ataupun tindakan tidak boleh bertentangan dengan ajaran kitab suci Agama.
“Jadi paugeran itu tidak boleh berubah, yang bisa berubah adalah pranatan,” tegas Gusti Prabu.
Sementara dalam pemberangkatan ritual Mubeng Benteng, Gusti Prabu mengatakan, bahwa Topo Bisu Mubeng Benteng bukan berarti diam saja.
Tapi mengandung arti perenungan diri atas apa yang sudah dilakukan selama satu tahun ini.
“Mubeng benteng ini adalah supaya kita bisa merenungkan, introspeksi diri atas apa yang kita lakukan dahulu, untuk menjadi yang lebih baik ke depan,” katanya.
Adapun pada ritual pemberangkatan Topo Bisu, turut hadir Rayi Dalem, kerabat Keraton, serta para Sentana Dalem, di antaranya GBPH Yudhaningrat, GBPH Cakraningrat, KPH Suryahadiningrat, KPH Yudha Hadiningrat, KPH Poerbpdiningrat, KPH Projonegoro, dan lainnya.
Sementara itu, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Poerbodiningrat, yang adalah menantu Sri Sultan Hamengku Buwono X, enggan berkomentar mengenai ungkapan tersebut.
Menurutnya, malam 1 Sura adalah momentum untuk berintrospeksi diri dan berkontemplasi.
“Tidak perlu ada yang ditanggapi. Ini saatnya kita berkontemplasi, berintrospeksi diri ke depannya bagaimana, itu saja. Saya enggak perlu menanggapi mengenai apa yang tidak perlu saya tanggapi,” katanya saat ditemui ketika pemberangkatan ritual mubeng benteng. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/topo-bisu_5466_20151013_214759.jpg)