Terlibat dalam Perang Sudirman, Warga Ikut Drama Kolosal
Drama kolosal itu diperankan TNI bersama warga Kulonprogo. Puncak peperangan terjadi saat tentara RI melakukan perlawanan sebagai Serangan Umum 1 Mare
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Suara tembakan dan ledakan bom bertubi-tubi membuat para pemuda dan rakyat yang tergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) mengalami suasana genting ketika Belanda melancarkan agresi militernya yang kedua.
Serangan angkatan perang gerilya Belanda membombardir wilayah Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo, wilayah strategis Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo itu membuat pasukan Panglima Jenderal Sudirman sempat menyingkir dari ibu kota Negara RI di Yogyakarta.
Bersama pasukannya, Jenderal Sudirman menyeberangi Sungai Progo menuju Dukuh Banaran Desa Banjarsari Kecamatan Samigaluh Kulonprogo.
Di pangkalan perang rakyat di wilayah ini lah pasukan Jenderal Sudirman menyusun strategi perang melawan Belanda.
"Di wilayah Kulonprogo ini pula, kemudian Letkol Suharto penyusunan strategi perang melawan Belanda yang dikenal Serangan Umum 1 Maret 1949," kata Lurah Panjatan, Somawiharjo, yang menjadi saksi sejarah, dikutip dalam naskah drama kolosal perang Sudirman, yang dipentaskan saat Peringatan HUT ke-70 TNI, di Lapangan Pengasih Kulonprogo, Senin (5/10/2015).
Drama kolosal itu diperankan TNI bersama warga Kulonprogo. Puncak peperangan terjadi saat tentara RI melakukan perlawanan sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.
Letusan senjata, ledakan bom yang ditampilkan menggunakan petasan, dan teriakan perlawanan serta hiruk-pikuk yang diperankan warga bersama TNI itu menjadi tontonan yang memukau seluruh masyarakat yang hadir di lapangan Pengasih.
Pada akhirnya, sesuai skenario drama itu, pasukan tentara RI berhasil memenangkan pertempuran sengit yang membumihanguskan gedung-gedung perkantoran, rumah dan jembatan agar tidak diduduki Belanda.
Pasukan kemudian berteriak merdeka. Panglima Jenderal Sudirman dan pasukannya mengangkat bendera, disusul tepukan tangan masyarakat yang hadir.
Kemeriahan peringatan HUT ke 70 TNI di Kulonprogo itu bahkan tidak hanya pada pentas drama kolosal tersebut. Selain pentas peperangan, seni tarian Laskar Menoreh dan kirab alutsista juga menjadi daya tarik bagi masyarakat dan anak-anak.
Sebelum iring-iringan alutsista dimulai, ratusan anak-anak bahkan berkerumun menaiki tank dan peralatan perang lainnya.
Mereka diizinkan untuk ikut naik tank tersebut saat kirab menuju Alun-alun Wates. Di sepanjang jalan pun keceriaan memancar dari wajah anak-anak.
"Senang sekali bisa naik tank. Ini pengalaman pertama bisa naik mobil perang bareng temen-temen," ujar Laila, siswa SDN 2 Pengasih yang datang bersama rombongan siswa SD serta para gurunya.
Kepala Penerangan Korem 072/PMK, Mayor Inf M Munasik, mengatakan kirab alutsista memang sengaja menyertakan masyarakat dan terutama anak-anak ikut naik. Pasalnya, TNI juga berasal dari rakyat.