Tiga Pesawat TNI AU Terbang Untuk Membombardir Benteng Belanda

Tiga pesawat akan diterbangkan untuk tugas melakukan serangan udara terhadap benteng pertahanan Belanda.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: oda
tribunjogja/santoari
Beberapa siswa Sekolah Penerbang TNI AU melakukan rekontruksi peristiwa penyerangan tiga kota Salatiga, Ambarawa dan Semarang yang merupakan peringatan dalam rangkaian kegiatan Hari Bakti TNI AU ke 68, Kamis (29/7) di Base Ops Lanud Adisutjipto. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Tiga pesawat peninggalan Jepang, masing-masing satu pesawat Guntai dan dua pesawat Cureng, siap lepas landas dari Pangkalan Udara Maguwo menuju Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Ketiga pesawat itu akan diterbangkan untuk tugas melakukan serangan udara terhadap benteng pertahanan Belanda.

Para Kadet Penerbang tadi menjalankan misi rahasia dari Kepala Staf Angkatan Udara sebagai reaksi balasan terhadap agresi Militer Belanda I yang melaksanakan serangan udara di wilayah-wilayah RI termasuk pangkalan udara di Jawa dan Sumatra.

Yang terjadi sebenarnya adalah, hal tersebut merupakan aksi teatrikal yang dilakukan oleh penerus TNI AU dalam simulasi penyerangan penjajah pada 29 Juli 1945 dalam rangka napak tilas operasi udara AU.

Suasana yang dibangun benar-benar mengingatkan tentang peristiwa heroik dan bersejarah yang juga merupakan operasi udara pertama yang dilakukan oleh AU kala itu.

Aksi teatrikal yang dilakukan oleh siswa penerbang tersebut lengkap menggunakan pakaian kadet penerbang pada jamannya.

Pesawat yang digunakan dalam aksi teatrikal pada rabu (29/7/2015) dini hari di Base Ops Pangkalan Udara Adisutjipto adalah pesawat latih terbaru milik TNI AU, Grob G 120 TP-A.

Marsekal Pertama TNI Imran Baidirus yang hadir dalam napak tilas mengatakan, serangan Udara memperlihatkan kegigihan, keuletan, ketangguhan, keyakinan dan semangat juang para pendahulu TNI Angkatan Udara dalam mengemban tugas mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Imran Baidirus menekankan dengan keterbatasan yang dimiliki oleh rintisan Sekolah Penerbang TNI AU, para “Tentara Langit” kala itu tetap mampu menunjukkan darma bhakti terbaiknya sebagai bentuk eksistensi Angkatan Udara menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved