Gunung Tidar Dipadati Peziarah
Gunung Tidar di Kota Magelang mulai dipadati peziarah sejak sepekan terakhir menjelang Ramadan.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Gunung Tidar di Kota Magelang mulai dipadati peziarah sejak sepekan terakhir menjelang Ramadan.
Gunung yang menjulang setinggi 500 meter dari permukaan laut (mdpl) itu, selain menjadi ikon Magelang sebagai Pakuning Tanah Jawa, juga memiliki petilasan religi untuk berziarah.
Puluhan orang nampak khusyuk berdoa di sebuah bangunan berbentuk lingkaran dengan dinding batu bata di tengah-tengah Gunung Tidar, belum lama ini. Mereka memanjatkan doa dan membawa taburan bunga mawar merah putih.
Para peziarah itu melepas sandal, duduk bersila dan bersimpuh, lalu berdoa di makam yang dikenal sebagai salah satu penyebar agama islam di pulau Jawa, yakni Syekh Subakir.
Menurut cerita, Syekh Subakir berasal dari Iran, dalam riwayat lain Syekh Subakir berasal dari Rum, Baghdad.
Syekh Subakir diutus ke Tanah Jawa bersama-sama dengan Wali Songo Periode Pertama, yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turki, untuk berdakwah di pulau Jawa pada tahun 1404.
Syekh Subakir dikenal sebagai orang pertama yang bisa menaklukkan penguasa atau jin di Gunung Tidar, yang dulu dikenal angker.
Menurut informasi, petilasan yang berbentuk makam Syekh Subakir ini, sebenarnya hanya berupa petilasan saja.
Sementara, hanya ada dua buah makam yaitu Makam Kyai Sepanjang dan Makam Sang Hyang Ismoyo atau makam kyai Semar.
Petilasan Syekh Subakir sebelumnya ditandai dengan adanya kijing yang terbuat dari kayu.
Adapun setelah dipugar, kijing tersebut diletakkan di pendopo dan diganti dengan batu fosil yang berasal dari Tulung Agung serta dikelilingi pagar tembok yang berbentuk lingkaran dan tanpa atap.
Sangat tidak mudah untuk mencapai tiga petilasan makam di Gunung Tidar itu. Selain jalanan curam, para peziarah juga harus melewati ribuan anak tangga.
Namun, rasa lelah terbayar dengan pemandangan hutan pinus yang masih alami dan sesekali banyak kera bergelantungan di pepohonan, menjadi daya tarik tersendiri.
Mansur (47), salah satu peziarah meyakini, dengan berziarah ke petilasan Syekh Subakir, keluarganya akan mendapatkan berkah. Peziarahan ini dilakukannya setiap bulan ruwah dan Sykahban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petilasan-syekh-subakir_20150621_223546.jpg)