Cicipi Gurihnya Gudeg Basah Khas Yogyakarta di Warung Mbok Mandeg
Makanan in telah menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kurang lengkap rasanya jika berkunjung ke Yogyakarta tanpa mencicipi salah satu makanan khasnya yang paling terkenal, yakni gudeg. Ya, karena makanan in telah menjadi ikon kuliner khas Yogyakarta, maka tak heran kita akan dengan mudah menemui penjual makanan yang berbahan utama gori (nangka muda) tersebut di sudut Yogyakarta.
Secara umum gudeg terbagi dalam dua jenis, yakni gudeg basah dan gudeg kering. Gudeg basah disajikan dengan kuah santan nyemek yang gurih, dan biasanya banyak diburu untuk menu sarapan pagi. Sedang untuk gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama hingga kuahnya mengering dan warnanya lebih kecoklatan.
Salah satu penjual gudeg basah di sudut kota Yogyakarta adalah rumah makan Gudeg Basah Mbok Mandeg yang terletak di jalan Parangtritis KM 3, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, tepatnya selatan simpang empat Jl Parangtritis – Jogokaryan.
Sesuai dengan nama yang terpampang di depan tempat makan tersebut, menu andalannya adalah gudeg basah. Gudeg racikan Mbok Mandeg ini memiliki cita rasa yang gurih, tidak dominan manis. Rasa gurih dari areh (sanatan kental) gudegnya serta rasa pedas dari sambal kreceknya bercampur menjadi satu dengan tekstur daging gori (naangka muda) yang lembut. Percampuran ini menciptakan satu paduan rasa yang nikmat.
Menu gudeg tersebut disajikan dengan pilihan lauk berupa ayam kampung dan telur bebek. Meskipun menggunakan ayam kampung, tetapi dagingnya tidak alot, dan rasanya pun gurih. Untuk telur bebeknya sendiri juga terasa gurih, terlebih lagi rasa bumbunya yang meresap hingga ke dalam telur.
Dahlia Pertiwi Sari, selaku pemilik Gudeg Basah Mbok Mandeg mengatakan, usaha gudegnya tersebut telah dirintisnya sejak dua tahun yang lalu. Dia memutuskan memilih gudeg basah sebagai menu andalan usaha kulinernya, karena gudeg basah lebih condong ke rasa gurih, dari pada manis.
"Jika menjual gudeg basah yang rasanya gurih, tidak terlalu manis, siapa saja lebih bisa menerima rasa tersebut. Termasuk orang luar kota yang sedang berlibur ke Yogyakarta," ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, pilihanya berbisnis kuliner dengan berjualan masakan tradisional, kerena menurutnya masakan tradisional tidak ada matinya dan akan selalu diburu oleh penggemarnya.
Gudeg basah di Mbok Mandeg, yang memiliki rasa gurih tersebut adalah kreasi dari Dahlia Pertiwi Sari sendiri. Dirinya tidak berasal dari keluarga penjual gudeg, dan juga tidak pernah belajar kepada orang yang telah ahli memasak gudeg.
"Resepnya berasal dari coba-coba, butuh waktu satu tahun untuk mendapatkan racikan yang rasanya pas seperti saat ini," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gudeg2_20150617_184126.jpg)