Tahun Ini Pemkab Kulonprogo Bedah 700 Rumah
Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, menyatakan pada 2015 ini setidaknya 700 unit rumah tak layak huni mendapat program bedah rumah
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, menyatakan pada 2015 ini setidaknya 700 unit rumah tak layak huni mendapat program bedah rumah.
Sekitar 650 unit dibedah dengan dukungan APBdes, sisanya merupakan hasil dukungan Bazda, CSR perusahaan, dan donatur lainnya.
Hasto mengatakan program bedah rumah diberikan di setiap pedukuhan minimal satu unit. Namun, ada pula satu pedukuhan yang mendapat program tersebut sebanyak dua unit rumah.
"Satu hal terpenting dalam program ini adalah kegotongroyongan. Semoga tidak hanya dalam program ini tapi juga dalam pembangunan lainnya," ujar Hasto, saat kunjungan kerja di Bendungan Wates, Rabu (10/6/2015).
Menurutnya, semangat gotongroyong masyarakat selama ini sudah terlihat ketika pelaksanaan program bedah rumah.
Bupati berharap dalam pembangunan infrastruktur dan ekonomi misalnya, masyarakat juga dapat terlibat memberikan dukungan.
Camat Wates, Ariadi, pada kesempatan itu juga melaporkan dukungan masyarakat dalam pembangunan melalui swadaya bahkan mencapai Rp 3.091.569.800, tersebar di delapan desa.
Sementara, pembangunan dengan dana APBdes mencapai APBDes Rp 597,7 jutaan.
"Pembangunan di Kecamatan Wates pada 2014 dari APBN Rp 29.480.550.000, dari APBD I Rp 22.706.526, APBD Kabupaten Rp 8.912.719.950," terangnya.
Menurutnya, proses pembangunan di wilayah Kecamatan Wates cukup kompleks.
Pasalnya, di wilayah perkotaan ini sejumlah masalahnya antara lain adanya potensi banjir di sawah, kualitas air di beberapa desa, hama tanaman pertanian, dan masih banyaknya rumah tak layak huni.
"Kami harap terealisasinya megaproyek nantinya membawa kemajuan ekonomi masyarakat, majunya pendidikan, dan infrastruktur," ujarnya.
Kades Bendungan, Mujiya, mengatakan bedah rumah di desanya tahun ini setidaknya 17 unit. Dalam pelaksanaannya, swadaya masyarakat memiliki andil paling besar.
Dukungan itu berupa materiil, tenaga, dan konsumsi.
"Salah satunya di rumah Sutarman, seorang tunanetra tiga anak. Keluarga ini kurang mampu," katanya. (tribunjogja.com)