Langka dan Mahal, LPG 3 Kg di Perbatasan Magelang

Warga di perbatasan Kabupaten Magelang masih mengeluhkan langkanya gas LPG 3. Selain langka, harga gas bersubsidi bisa menembus Rp 24 ribu per tabung.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: oda
TRIBUNJOGJA/ SITI ARIYANTI
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sejumlah warga di perbatasan Kabupaten Magelang masih mengeluhkan langkanya gas Elpiji 3 Kilogram (kg). Selain langka, harga gas bersubsidi di wilayah perbatasan bisa menembus Rp 24 ribu per tabung.

Satria Jati Hutama, warga Desa Kenalan, Kabupaten Magelang menjelaskan, gas Elpiji 3 kg sangat sulit dicari akhir-akhir ini.

Hampir selama sebulan terakhir, warga berusaha untuk mencari gas hingga daerah perbatasan Kali Bawang, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Gas sudah sangat sulit dicari. Baik Magelang dan DIY juga sama-sama langka. Warga menjadi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan memasak,” ujarnya kepada Tribunjogja.com, Minggu (7/6/2015).

Dia menjelaskan, selain sulit didapatkan, gas bersubsidi ini dijual oleh para pengecer dan pangkalan lebih dari Harga Eceran Tertinggi (HET), yakni menembus Rp 24 ribu per tabung. Kondisi ini, ujarnya membuat warga semakin resah.

“Saya sendiri terpaksa menggunakan kayu bakar sebagai alternatif mengatasi kesulitan dan mahalnya gas ini,” keluhnya.

Dia berharap pemerintah bisa tanggap dan segera memberikan solusi atas kelangkaan dan mahalnya gas tersebut.

Sebab, hal ini membuat rakyat kecil semakin tertekan dengan harga bahan kebutuhan pokok yang juga terus merangkak naik menjelang puasa ini.

Sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Pendistribusian dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan dan Pasar (Disdagsar) Kabupaten Magelang, Anang Kusbandiyarto menjelaskan, kelangkaan gas di Kabupaten Magelang telah memasuki tahap kronis.

“Ini ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama kemungkinan disebabkan adanya penambahan jumlah pangkalan oleh Pertamina. Dimana, pangkalan yang biasanya dapat jatah 200 menjadi hanya 100. Setelah itu, ada panic buying dari masyarakat yang menyebabkan gas menjadi langka,” paparnya.

Dia menyebut, panic buying itu lantaran warga khawatir jika tidak kebagian jatah gas. Sehingga, membuat satu orang warga kemudian membeli lebih dari satu atau dua tabung sekaligus untuk cadangan di rumah tangga masing-masing. (Tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved