Pasar Sruni Kebumen Resmi Beroperasi

Acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi Pasar Sruni di Desa Sruni, Kecamatan Alian.

Pasar Sruni Kebumen Resmi Beroperasi
dok.pri

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, KEBUMEN - Pada 2015, Kementrian Perdagangan RI akan membangun Pasar Rakyat sebanyak 1000 pasar. Pembangunan pasar tersebut akan didanai dari anggaran APBN dan APBN P.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Srie Agustina, saat meresmikan Pasar Sruni, di Pendopo Bupati Kebumen, Sabtu (23/5/2015). Selain peresmian, acara kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi Pasar Sruni di Desa Sruni, Kecamatan Alian.

Acara peresmian yang ditandai dengan penandatangan prasasti tersebut, juga dihadiri Bupati Kebumen H Buyar Winarso SE, Dinas Perdagangan Provinsi Jateng, Anggota Forkompinda Pemkab Kebumen, Sekda Kebumen H Adi Pandoyo SH MSi, Pimpinan BRI Cabang Kebumen, para pedagang serta para pelajar peserta sosialisasi Aku Cinta Produk dalam negeri.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolik sertifikat izin hunian kios, serta penyerahan KUR dan KUPEDES oleh Direktur Utama BRI. Acara berikutnya adalah Sosialisasi Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri yang diikuti oleh para pelajar di Kebumen.

Srie Agustina mengatakan, ada tiga tugas besar Dirjen perdagangan yang harus dilaksanakan yakni meningkatkan ekspor, penguatan pasar rakyat serta membangun pasar tradisional. "Tentunya tidak hanya membanguan pasar secara fisik, tetapi juga pembangunan Sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya," jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun Jogja dari Bagian Humas dan Protokol Setda Kebumen.

Agustina melanjutkan, selain revitalisasi pasar secara fisik misalnya pembangunan fisik 1000 pasar, revitalisasi juga menyentuh ekonomi sosial budaya. Revitalisasi ekonomi, diantaranya dengan memberikan kemudahan akses para pedagang untuk berhubungan dengan perbankan.

"Misalnya pedagang bisa mendapatkan pinjaman tanpa agunan. Sedangkan revitalisasi sosial budaya adalah dengan dimasukannya aktivitas sosial budaya dalam pengelolaan manajemen pasar. Wudunya antara lain menggelar lomba menata dagangan dengan baik, mendesain kios, dan cara melayani pembeli dengan baik. Bahkan mulai 2015, akan diterapkan Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) terhadap pasar rakyat, di mana ada 44 kriteria yang harus dipenuhi sebagai pasar rakyat berhak mendapatkan sertifikat SNI," ungkap Agustina.

Sementara Bupati Kebumen H Buyar Winarso,SE dalam sambutannya mengatakan, pembangunan pasar tradisional di Kabupaten Kebumen, termasuk Pasar Sruni, dilatarbelakangi pasar sebagai pusat perniagaan bagi masyarakat. Pasar memiliki peranan yang sangat penting bagi pergerakan roda perekonomian. Untuk itu perlu upaya penataan pasar-pasar tradisional, termasuk Pasar Sruni.

"Apalagi kondisi pasar tradisional yang kumuh, becek serta gelap. Kios dan los sudah banyak yang rusak, atap yang bocor, belum lagi tata letak pedagang yang tidak teratur sesuai jenis dagangan. Tentu kondisi tersebut sangat memengaruhi daya saing. Karenanya saya berharap, keberadaan Pasar Sruni dapat membawa manfaat yang optimal bagi para pedagang, pembeli maupun masyarakat sekitar, yang pada akhirnya akan meningkatkan taraf perekonomian serta kesejahteraan masyarakat," ungkap Bupati.

Kepala Dinas Perindagsar Kebumen, H Azam Fatoni SH MSi mengatakan pasar Desa Sruni Kec Kebumen, dibangun di atas lahan seluas 3.411 meter persegi. Fasilitas yang dibangun antara lain kios, los, kamar mandi dan wc, CCTV, musholla, tempat pembuangan sampah, drainase serta sanitasi. Pasar ini dibangun dengan biaya sebesar Rp 8.000.000.000 yang bersumber dari APBN.

"Sebelum dibangun jumlah kios di Pasar Sruni sebanyak 86 unit. Los sebanyak 22 lajur dibagi menjadi 638 petak, jumlah pedagang sebanyak 724 orang, dengan jumlah omzet rata-rata per bulan sebesar Rp. 1.978.000.000. Sedangkan setelah dibangun terdapat peningkatan yakni, jumlah kios menjadi 90 buah, los menjadi 27 lajur dibagi menjadi 667 petak, jumlah pedagang menjadi 757 orang, dengan jumlah omzet rata-rata per bulan (diperkirakan, red) menjadi Rp 2.198.216.000," paparnya.

Untuk menciptakan pasar yang ideal, Pemerintah Kabupaten Kebumen telah membangun 16 pasar tradisional. Pada 2011, telah dibangun tiga pasar tradisional yaitu: Pasar Krakal, Pasar Ambal dan Pasar Ayah. Pada 2012, telah dibangun lima pasar tradisional yaitu Pasar Tumenggungan, Pasar Prembun, Pasar Jatisari, Pasar Tlogopragoto serta Pasar Karanganyar. Berikutnya pada 2013, telah dibangun dua pasar tradisional yaitu Pasar Kutowinangun dan Pasar Petanahan serta pada 2014, dibangun enam pasar tradisional, yaitu Pasar Sruni, Pasar Rowokele, Pasar Banyumudal, Pasar Candirenggo, Pasar Hewan Karanganyar, serta Pasar Karanggayam.(*)

Tags
Pasar
Penulis: Rento Ari Nugroho
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved