Berobat di Sini Hanya Bayar Seikhlasnya
Pasien yang datang di tempat terapi milik Sutarno umumnya adalah mereka yang beberapa kali masuk rumah sakit
Laporan Reporter Magang Tribun Jogja, Fitriana Rahmawati
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Terapi “Nuga Best”, terletak di jalan Raya Wedi-Gantiwarno Km 2, dukuh Ngantenan, desa Canan, Wedi, Klaten, melayani terapi untuk mengobati berbagai macam penyakit dengan bayar seikhlasnya.
Pengobatan tradisional ini buka setiap hari.
Pasien lemah jantung, stroek, diabetes, kolestrol tinggi, asam urat, sulit mendapatkan keturunan, hingga pasien yang ingin menurunkan berat badan, pernah menjalani terapi di Nuga Best. Sutarno (65) adalah pemilik tempat terapi ini.
Pasien yang datang di tempat terapi milik Sutarno umumnya adalah mereka yang beberapa kali masuk rumah sakit namun belum begitu terlihat progres kesembuhannya.
“Sebelumnya kami juga tidak ada niatan untuk buka terapi, tapi berkat tersebarnya kabar kesembuhan tetangga yang memakai alat ini, akhirnya dengan usulan tetangga juga kami membuka terapi namun dengan bayar seikhlasnya pasien”, terang Murniati (56), istri Sutarno.
Kilas balik adanya terapi ini, pada tahun akhir 2011, kala itu Sutarno masuk ke RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten lantaran terkena diabetes.
Kadar gula darah Sutarno mencapai 527, kolesterol hingga 390, dengan tekanan darah 190 / 100.
Selama tujuh hari, yaitu pada tanggal 30 November hingga 6 Desember, kondisi Sutarno tidak mengalami perubahan yang berarti.
Akhirnya pihak keluarga menyerah dan memutuskan untuk kembali merawat Sutarno di rumah. Kala itu ia hampir putus asa.
Kabar sakitnya Sutarno terdengar hingga saudaranya yang tinggal di Jakarta, pada tanggal 10 Desember Sutarno mendapatkan kiriman sebuah alat terapi buatan Korea.
Tiga minggu Sutarno menggunakan alat terapi itu, gula darahnya turun hingga 210, lama-kelamaan kondisinya semakin prima. Atas kesembuhan ini Sutarno amat bersyukur.
Atas rasa syukur yang dirasakan Sutarno, ia menawarkan bantuan kepada tetangga sekelilingnya yang sedang mengalami gangguan kesehatan.
Satu per satu, hari berganti hari tetangga Sutarno datang untuk ikut menjalani terapi. Keadaan mereka pun semakin membaik.
Hingga pada bulan Maret 2012 Sutarno membuka tempat praktik terapi dan membeli sebuah alat terapi lagi agar tidak banyak yang mengantri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/terapi-3_1705_20150517_153152.jpg)