Warga Pakem Bakar Ogoh-ogoh Betoro Bego Siskolo Protes Penambangan Liar

Ogoh-ogoh berukuran besar itu mempunyai badan berwarna hitam serta berkepala babi yang bertaring.

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Santo Ari
Ratusan warga dari kecamatan Pakem dan Turi gelar aksi protes penambangan pasir, Sabtu (2/5/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ratusan warga dari kecamatan Pakem dan Turi menggelar aksi protes penambangan pasir, Sabtu (2/5/2015) pagi. Yang unik dalam demonstrasi tersebut adalah kehadiran sanggar Tiktuk dari dusun Glondong, Purwobinangun, Pakem yang mengarak Ogoh-ogoh yang dinamakan Betoro Bego Siskolo.

Ogoh-ogoh berukuran besar itu mempunyai badan berwarna hitam serta berkepala babi yang bertaring. Setelah orasi dari perwakilan warga di lapangan Pulowatu, Pakem, ogoh-ogoh tersebut di arak menuju lokasi tambang pasir sungai Boyong.

"Pembakaran ogoh-ogoh ini melambangkan warga yang membuang hal-hal yang kurang baik dan dapat merusak sungai Boyong," ujar kadus Glondongan, Hartinah yang turut terjun dalam aksi.

Hartinah menuturkan warga menuntut eskavator yang masih mengeruk pasir di sungai Boyong segera menghentikan operasinya. Dari pantauannya, tiga hari lalu masih ada eskavator yang menambang pasir di wilayah Candibinangun.

"Kami sudah memutuskan, alat berat harus turun. Karena kami yang mendapat dampaknya," tandasnya.

Ia menjelaskan pengerukan pasir secara besar-besaran mengakibatkan air tanah di beberapa dusun menipis. Padahal, sumber air itulah yang digunakan warga untuk hidup, baik mulai untuk mandi ataupun memasak.

"Warga khususnya di Glondong, kebanyakan sudah tidak memiliki sumur, ya harapan satu-satunya adalah sumber air. Kalau sungai dan tebing dikeruk, lama-lama air tanah akan hilang" jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved