Dila, Ibu dari Sleman Berhasil Ciptakan Pembalut Kain

Dari industri rumahan itu, ia berhasil meraih omzet hingga puluhan juta rupiah tiap bulannya.

Dila, Ibu dari Sleman Berhasil Ciptakan Pembalut Kain
TRIBUN JOGJA/SANTO ARI
Dila memperlihatkan pembalut kain ciptaannya, Selasa (28/4/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Seorang ibu rumah tangga di Sleman, mengembangkan pembalut wanita berbahan dasar kain yang dinilai lebih ramah lingkungan dan nyaman dipakai.

Dari industri rumahan itu, ia berhasil meraih omzet hingga puluhan juta rupiah tiap bulannya.

Fadillah soraya (32) warga Jalan Kaliurang km 10, Gondangan rt 01, Ngaglik, tak menyangka usahanya dapat berkembang pesat.

Mulanya, setelah lulus UGM pada tahun 2005, ia lalu berprofesi sebagai pengajar di salah satu kampus negeri di Yogyakarta.

"Hingga pada 2008 saya membeli produk pembalut kain dari luar negeri, dan ternyata nyaman dipakai. Waktu itu saya beli seharga Rp125 ribu," ujar perempuan yang akrab dipanggil Dila tersebut.

Dila lantas berfikir bahwa bahan pembalut itu dapat ditemukan di Indonesia. Berbekal nekat, pada waktu senggangnya ia lantas memulai usaha pembuatan pembalut dan popok bayi pada tahun itu juga.

"Hingga pada 2010 saat anak kedua saya lahir, saya berhenti mengajar dan fokus di usaha saya," jelasnya.

Ia beranggapan pembalut kain lebih ramah lingkungan dan baik untuk kulit wanita yang sensitif, dibandingkan dengan pembalut yang beredar di pasaran yang melewati proses kimiawi.

"Pembalut sekali pakai melewati proses diputihkan dan dibikin steril. Tentu itu menggunakan bahan-bahan kimia. Kalau kami tidak, hanya kain saja, dan pemakai tidak terpapar zat kimia," ungkapnya.

[baca : Inilah Bahan Dasar Pembalut Kain Buatan Dila]

Kain yang dipakai Dila-pun juga sudah memiliki standar internasional untuk keamanannya. Ia menjelaskan bahwa dengan memakai pembalut kain, pemakai juga dapat ikut menyelamatkan bumi dari sampah pembalut.

"Bahan kain yang kami pakai bisa dicuci, dan akan kembali seperti baru. Sedangkan pembalut yang sekali pakai, paling cepat terurai 50 tahun lagi," tuturnya. (*)

Tags
Sleman
Penulis: nto
Editor: hdy
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved