Inilah Bahan Dasar Pembalut Kain Buatan Dila

Bahan ini menjaga agar lingkungan sekitar vagina tidak terlalu lembab.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Hendy Kurniawan
TRIBUN JOGJA/SANTO ARI
Dila memperlihatkan pembalut kain ciptaannya, Selasa (28/4/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Seorang ibu rumah tangga di Sleman, kembangkan pembalut berbahan dasar kain yang dinilai lebih ramah lingkungan dan nyaman dipakai. Dari industri rumahan itu, ia berhasil meraih omzet hingga puluhan juta tiap bulannya.

Fadillah soraya (32) warga jalan Kaliurang km 10, Gondangan RT 01, Ngaglik, Sleman tak menyangka usahanya dapat berkembang pesat.

Mulanya setelah lulus UGM 2005, ia berprofesi sebagai pengajar di salah satu kampus negeri di Yogyakarta.

Dila, sapaan akrabnya, menjelaskan secara detil bagian-bagian dari pembalut yang dibuatnya. Sisi luar, terbuat dari kain yang dilaminasi hingga menjadi anti-air dan merupakan kain berpori sehingga sirkulasi udara tetap terjaga.

Ia menjelaskan teknolagi pada kain ini dinamakan PUL (polyurethane laminated).

Sedang sisi tengah adalah kain microfiber yang berbentuk seperti handuk. Bagian ini berfungsi mengikat cairan dan menampungnya agar tidak melebar kemana-mana.

Dilanjutkannya, sisi dalam, yang bersentuhan langsung dengan kulit terbuat dari kain microfleece lembut.

Bahan ini menjaga agar lingkungan sekitar vagina tidak terlalu lembab. Dengan adanya microfleece, cairan akan diserap, diteruskan ke microfiber, dan ditahan oleh microfleece agar tidak naik ke atas lagi.

"Inilah yang membuat area kewanitaan terjaga tetap kering dibanding pembalut sekali pakai," terangnya.

Untuk menjaga perawatan pembalut kain, Dila menjelaskan pemakai hanya cukup membilasnya dengan air mengalir saja untuk kemudian dijemur tanpa proses setrika.

Namun jika ingin menambahkan detergen, gunakan sesedikit mungkin. Ia mencontohkan untuk satu pembalut, cukup menggunakan detergen seujung jari. Setelah pembalut dibersihkan dan kering, dapat digunakan lagi.

"Saat pembalut kotor, idealnya ganti pembalut setiap empat jam agar area kewanitaan tidak menjadi area berkembangnya bakteri dan jamur," tukasnya.

Dari usahanya rumahan, saat ini Dila mampu mempekerjakan belasan perempuan yang rata-rata merupakan warga sekitar.

Untuk produksinya sendiri, ia mengaku bisa menghasilkan 1.000 potong pembalut per bulannya dengan omzet hingga Rp70 juta.

Omzet itu diperolehnya hanya dengan menjual produknya melalui website yakni www.baby-oz.com.

Saat ini ia sudah merangkul distributor dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara. "Hampir di setiap pulau di Indonesia ada. Kalau dari luar negeri ada yang dari Malaysia dan Italia," ujar Dila. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved