Musimin, Si Penyelamat Anggrek Ikon Merapi

Musimin mulai merintis pelestarian dan budidaya anggrek di kawasan lereng merapi sejak tahun tahun 1994

Penulis: Santo Ari | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pascaerupsi Merapi tahun 2010 lalu, endemik Anggrek di Gunung Merapi hampir punah. Beberapa pihak mulai tergerak dan aktif melakukan konseverasi untuk pelestarian tanaman anggrek. Salah satunya adalah warga Musimin (50) warga Turgo, Purwobinangun, Pekem, Sleman.

Dengan program adopsi anggrek, dia mengajak masyarakat untuk bersama-sama peduli akan budidaya anggrek. Khususnya anggrek yang merupakan ikon Merapi.

Musimin mulai merintis pelestarian dan budidaya anggrek di kawasan lereng merapi sejak tahun tahun 1994. Pada saat itu erupsi Merapi pernah menghabiskan sebagian besar endemik anggrek. Bersama kelompok Tani Ngudi Makmur, Musimin mulai mengembangbiakkan tanaman anggrek yang ditemuinya saat menjelejahi hutan Merapi.

"Dulu saya tidak tahu jenis-jenisnya, saya hanya berusaha menyelematkan endemik merapi," ungkapnya, Sabtu (21/2/2015).

Dengan bekerjasama dengan Yayasan Kanopi Indonesia yang merupakan lembaga nirlaba yang memiliki bidang utama dalam lingkup pelestarian keanekaragaman hayati baik flora dan fauna, Musimin mulai tahu jenis-jenis anggrek dan bagaimana cara yang baik dan benar dalam merawatnya.

Saat ini dia bekerjasama dengan yayasan Kanopi behasil membangun lima green house dimana setidaknya tumbuh 2.000 anggrek di sana. Dalam green house tersebut mereka mulai membudidayakan indukan dari berbagai jenis anggrek.

Untuk kemudian menawarkan kepada masyarakat untuk dapat mengadopsi untuk mengembalikan lagi ke habitat asli anggrek-anggrek tersebut.

"Ini semua untuk anak cucu kita, agar mereka bisa tahu anggrek dengan melihatnya langsung," tandasnya.

Musimin yang berperan sebagai ketua di kelompok taninya, mengerahkan anggota bahkan keluarganya sendiri untuk perawatan anggrek. Dijelaskannya bahwa budidaya dalam green house tidaklah terlalu sulit.

Anggrek-angrek tersebut hanya diberikan air satu hari sekali atau dua hari sekali tergantung dari tipe-tipe anggreknya. "Kami tidak menggunakan pupuk, karena nanti akan dilepaskan lagi ke alam, mereka harus bisa hidup tanpa pupuk," jelasnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Tags
anggrek
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved