Konsumen Bermobil pun Beli Baju Awul-awul

Mereka pun meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan tentang larangan bisnis pakaian bekas impor.

Konsumen Bermobil pun Beli Baju Awul-awul
trenawul-awul.blogspot.com
Penjual pakaian bekas impor, atau akrab disebut pakaian awul-awul. 

TRIBUNJOGJA.COM, TEMANGGUNG – Bisnis pakaian bekas impor menjadi gantungan hidup ribuan orang pelaku usaha ini. Mereka pun meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan tentang larangan bisnis pakaian bekas impor.

Elis (55), seorang pedagang pakaian bekas impor di Parakan, Kabupaten Temanggung mengaku sudah berjualan hampir 11 tahun sejak 2003.

“Saya ambil barang dari Bandung, bukan dari Surabaya. Modelnya bagus-bagus kalau ambil dari sana (Bandung),” kata Elis kepada Tribun Jateng, pekan lalu.

Elis berharap pemerintah bijaksana dalam membuat aturan karena banyak orang termasuk dirinya menggantungkan hidup dari berjualan pakain bekas impor. “Kalau ngga boleh jualan, kita makan apa,” ujarnya.

Wilayah Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, memang menjadi pusat pakaian bekas impor terbesar di Jawa Tengah. Setiap toko menawarkan ribuan pakaian bekas impor mulai dari kemeja, kaos, celana jeans, hingga jaket.

Tribun Jateng pekan lalu menelusuri pusat pakaian bekas impor atau orang sana sering menyebutnya dengan kata owol-owol atau awul-awul. Sebutan itu disematkan karena pakaian tersebut didatangkan dengan dikuwol-kuwol (bergulung-gulung).

Tiba di sebuah jalan kecil, Jalan Saubari, yang berada sekitar Pasar Parakan yang kondisinya sedang direnovasi. Dari ujung ke ujung Jalan Saubari, Tribun disuguhi ribuan pakaian tergantung dalam setiap toko. Jika dihitung ada sekitar 15 toko besar di sepanjang Jalan Saubari.

Pemilik toko sudah berjualan owol-owol tidak dalam hitungan bulan atau satu dua tahun. Kebanyakan mereka sudah berjualan lebih 10 tahun. Salah satunya adalah Elis.

Menurut Elis beberapa bulan belakangan kondisi pembeli sedang sepi. Sebelumnya bisa sebulan dua kali “bongkar” kini hanya sebulan sekali. Setiap bongkar Elis mendatangkan sekitar tiga bal (karung) pakaian yang tiap bal bisa berisi 200-500 pakaian tergantung tebal tipis pakaian.

“Saya kalau bongkar tergantung barang yang banyak laku. Kalau stok jaket sedang tipis, ya ambil jaket. Dalam tiap bal berisi satu jenis pakaian misal celana saja atau kaos saja. Harganya bervariasi bisa Rp 3,7 juta- Rp 4,8 juta per bal,” ujarnya.

Elis mengaku tidak tahu barang yang dikirim dari Bandung berasal dari daerah mana. Dirinya hanya tahu sebatas barang disuplai dari Bandung. Elis tidak perlu datang langsung ke Bandung, dirinya cukup menelepon dan memberitahukan jumlah dan jenis pakaian yang dibutuhkan.

Selain dari wilayah sekitar Temanggung, pembeli owol-owol juga datang dari luar kota seperti Magelang, Kendal dan Semarang. Tak jarang, pembeli bermobil mewah pun mampir ke Parakan.

“Orang berduit dan bermobil mewah juga banyak yang mampir cari pakaian bekas,” kata Jeni (40), pedagang pakaian bekas impor lainya di Parakan. (Tim/Tribun Jateng)

Tags
Awul-awul
Editor: hdy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved