BERITA EKSKLUSIF JOGJA
Setop Rekanan, Siram Sendiri
Musim kemarau membuat upaya pemeliharaan taman perkotaan jauh lebih sulit karena minimnya air
Penulis: oda | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Obed Doni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - KEPALA BLH Kota Yogyakarta, Irfan Susilo, mengatakan, musim kemarau membuat upaya pemeliharaan taman perkotaan jauh lebih sulit karena minimnya air. Karena itu frekuensi penyiraman tanaman di berbagai ruas jalan kota berkurang.
"Sekarang mencari air juga agak sulit. Penyiramannya hampir setiap hari. Mungkin dua hari sekali. Sebetulnya setiap hari. Ya intinya saat ini airnya lebih banyak biar basah sampai bawah," kata Irfan ditemui di kantornya awal pekan ini.
Problem kekeringan memang tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Bahkan beberapa sungai sudah jauh berkurang debit airnya, dan mulai mengering. Meski demikian, Irfan berharap hujan yang sudah turun di beberapa daerah bisa menolong.
"Sudah ada titik-titik hujan di Sleman. Pada cuaca ekstrem seperti sekarang ini, tenaga kami pun bekerja ekstra," papar Irfan yang mengaku mengoptimalkan kinerja 16 tenaganya di BLH.
"Jumlah personelnya cukup. Kita juga memiliki enam armada yang selalu berangkat setiap pagi hari. Ada juga pihak ketiga yang membantu melakukan pemeliharaan taman kota," tuturnya.
Pihak ketiga tersebut berjumlah sekitar 20 rekanan yang membantu BLH untuk melakukan pemeliharaan taman kota di 150-an ruas jalan, dengan total luasan sekitar 60 ribu meter persegi. Selain penyiraman juga pembersihan sampah.
Saat ditanya sejumlah titik taman kota yang masih terdapat sampah, dia mengatakan pernah memanggil pihak ketiga untuk benar-benar membersihkan sampah yang masih menumpuk di taman kota.
"Dulu saya pernah meminta ke pihak ketiga supaya taman betul-betul dibersihkan. Jangan sampai ada sampah. Kalau ada penilaian Adipura jatuh. Tidak hanya saat menjelang Adipura, tetapi harus rutin dilakukan," ucapnya.
Dia juga menghimbau supaya biro-biro perjalanan memperhatikan kebersihan di tempat wisata terutaman di taman kota. Pembagian makanan harus di dalam bus dan sesudah makan, dus-dus dikumpulkan, kemudian dibuang di titik pembuangan sampah.
"Kalau seperti itu kan mengurangi penyebaran dus-dus bekas makanan. Agen-agen perjalanan biasanya membagikan dus makanan setelah bus terparkir sehingga sampah dus berserakan. Kami berharap agen perjalanan juga bisa memperhatikan kebersihan," pungkasnya. (tribunjogja.com)