BERITA EKSKLUSIF JOGJA
Konsepnya Baru Taman Rumahan
Konsep yang dibangun lebih cenderung taman kota berskala rumah tangga. Tanamannya hanya tergolong perdu atau tanaman kecil
Penulis: oda | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - KONSEP taman kota merupakan taman yang memiliki banyak pohon perindang, bukan tanaman perdu. Pohon perindang yang dimaksud ialah pohon besar yang memiliki banyak cabang dan dapat digunakan sebagai tempat berteduh.
Namun banyaknya pembangunan infrastruktur di perkotaan, seperti Kota Yogyakarta, konsep yang dibangun lebih cenderung taman kota berskala rumah tangga. Tanamannya hanya tergolong perdu atau tanaman kecil.
Padahal banyaknya gedung-gedung bertingkat dan kendaraan yang semakin padat, pohon besar yang dipergunakan untuk menangkap air hujan, sebagai tempat berteduh dan dapat menghasilkan oksigen atau menyaring polusi udara tergolong minim.
Salah satu contohnya di Jalan Diponegoro ke arah barat yang minim dengan pohon besar di pinggir jalan. Padahal melakukan perawatan pohon lebih mudah dan murah dibandingkan dengan merawat tanaman perdu.
Pasalnya, tanaman perdu atau kecil harus ekstra dalam melakukan perawatan termasuk penyiramannya saat musim kemarau. Di sisi lain dengan mengajak masyarakat untuk memahami dan peduli terhadap taman kota dapat menekan biaya perawatan taman kota.
Misalkan para pemilik toko ataupun PKL diajak untuk menyirami tanaman taman kota di sekitar mereka. Dengan ikut merawat tanaman di sekitarnya mereka dapat melestarikan lingkungan, seperti kelestarian sumber air.
Selain konsep, taman kota juga memiliki aspek. Dalam segi aspek atau fungsi, taman kota memiliki tiga aspek, yaitu aspek visual, sosial dan budaya. Aspek pertama, visual yaitu mengutamakan keindahan.
Dalam aspek ini, taman kota enak untuk dilihat dan dinikmati oleh mata. Untuk aspek sosial, taman kota bisa digunakan untuk berinteraksi sosial. Masyarakat dapat memanfaatkan dan menikmati taman kota tersebut.
Warga dapat duduk dan rileks untuk menghilangkan stres. Bahkan bersama-sama dapat berekreasi dengan nyaman tanpa terganggu dari tekanan sosial, waktu, dan ekonomi. Sedangkan tingkatan tertinggi dari taman kota ialah aspek budaya atau kultural.
Dalam aspek ini, taman bisa memberikan kepuasan batin dan ketenangan bagi pengunjungnya. Taman tersebut bisa dijadikan tempat meditasi atau menenangkan pikiran. Salah satu contohnya yaitu Taman Zen di Jepang. (tribunjogja.com)
Oleh: DR YOYOK WAHU SUBROTO, Pengamat Arsitektur Kota dari UGM