Lipsus Bisnis Warung Burjo

Modal Nekad, Gadai Sertifikat

Tidak hanya harus bersaing dan menyesuaikan dengan bisnis lokal di Yogyakarta, pedagang warung burjo bahkan memulainya dari benar-benar nol

Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keberadaan usaha warung burjo di Yogyakarta belakangan cukup menginspirasi karena keberhasilannya. Meski demikian, kisah sukses para pedagang asal Kuningan Jawa Barat itu jelas harus dicapai dengan usaha keras.

Tidak hanya harus bersaing dan menyesuaikan dengan bisnis lokal di Yogyakarta, pedagang warung burjo bahkan memulainya dari benar-benar nol. Kebanyakan pengusaha warung burjo asal Kuningan ini merupakan orang dari keluarga tidak mampu.

Alasan ini lah yang kemudian mengangkat semangat dan kerja keras mereka meski tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Selain Waruga yang dirintis oleh seorang berpendidikan sekolah dasar, pengusaha warung burjo lainnya, Ayep Anggi, juga terbilang sosok sederhana namun pekerja keras.

Di daerah Karangwuni, Jalan Kaliurang Sleman, pria yang akrab disapa "Asep" ini memiliki dua outlet warung burjo. Tidak hanya itu, di beberapa lokasi lain dekat kampus juga ada sejumlah outletnya.

Pada 2000-an, Asep masih seorang lulusan SMP yang nyaris tidak memiliki keahlian khusus. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, dengan kondisi keluarga yang sederhana, dia kemudian memutuskan untuk pergi ke Kota Bandung.

Di sana, Asep lajang bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik dengan gaji Rp 1 jutaan. Sebuah angka yang terbilang kecil jika dibandingkan tingkat kehidupan ekonomi di kota itu.

"Semua serba seadanya. Waktu itu saya numpang di sebuah rumah kontrakan bersama beberapa orang. Salah satu dari mereka itu penjual kopi. Ya, seperti warung burjo tapi kalau di Bandung atau Jakarta sebutannya warung kopi (warkop)," kata Asep, ditemui di outletnya, Kamis (17/7).

Hidup berdampingan dengan seorang pedagang itu lah awal mula dia berpikir untuk nekat membuka usaha warung. Dikisahkannya, suatu hari Asep masuk ke kamar temannya yang seorang pedagang di warkop tersebut. Sungguh pemandangan mencengangkan ketika dia melihat rekannya menghitung uang dalam jumlah besar.

"Katanya itu laba berjualan kopi. Saya heran setengah terkejut kok bisa sebanyak itu. Jumlahnya Rp 6 jutaan, berkali lipat dari gaji saya di pabrik yang hanya Rp 1 jutaan. Itu sekitar 2003," ujarnya.

Alih profesi
Seiring waktu berjalan, Asep memikirkannya sebagai pertimbangan untuk alih profesi. Selama itu pula dia lebih detail mengamati cara berdagang rekannya tersebut. Suatu ketika dia memutuskan pulang ke Kuningan.

Beruntung saat itu seorang pamannya yang pedagang warung burjo di Yogyakarta memberi informasi soal peluang berdagang. Asep langsung mengiyakan meski tidak memiliki bekal atau pun modal usaha.

Menurut informasi pamannya itu, ada warung burjo yang hendak dijual. Lokasi beserta perangkat lengkap itu milik dua orang. Sebelum membelinya, Asep datang dan memeriksa lokasi jualan ke Yogyakarta.

"Saya kaget karena harga menu-menu makanan di Yogya jauh lebih murah dibanding Jakarta atau Bandung. Saya sempat "down" mendengarnya. Tapi kemudian semangat lagi setelah tahu di sini ramai karena kompleks kampus dan kos-kosan," tuturnya.

Kendala berikutnya adalah soal modal. Asep terpaksa meminta sertifikat orangtuanya di kampung untuk digadaikan sebagai modal. Permintaannya itu sempat ditentang orangtua. Meski demikian akhirnya Asep berhasil meyakinkannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved