Buah Mengandung Formalin Ditemukan di Sedayu Bantul
Buah Mengandung Formalin Ditemukan di Sedayu
Penulis: say | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Siti Ariyanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dari hasil tes laboratorium yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, ditemukan buah anggur dan apel merah positif mengandung formulir. Tes dilakukan di laboratorium Dinkes Bantul belum lama ini.
Etik Dwi Reswati, Staf Dinkes yang bertugas mengambil sampel di Sedayu mengatakan, masyarakat perlu waspada jika membeli buah yang warnanya terlalu mengkilap. Normalnya buah anggur ataupun semangka akan cepat membusuk jika tidak ditaruh diemari pendingin.
Namun jika sudah dicampur dengan formalin, tentu buah itu akan menjadi lebih tahan lama. "Harusnya kan cepat membusuk buah itu. Masyarakat perlu hati-hati kalau ada pedagang yang menjual buah yang sama tetapi tidak busuk-busuk," kata Etik saat ikut melakukan sidak bersama Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul, Satpol PP dan juga Dinas Pertanian Bantul Kamis sore, (10/7).
Sulistyanyo, Kepala Disperindagkop Bantul menjelaskan, pihaknya memang sengaja rutin menggelar sidak ke pedagang makanan ataupun toko kelontong. Ia menemukan indikasi, barang dagangan yang sudah tidak layak dijual di toko modern akan dibawa ke pasar tradisional.
Selain itu melalui kegiatan sidak yang dilakukan, Sulis juga ingin menertibkan pedagang makanan yang menggunakan bahan-bahan berbahaya. Dalam sidak yang dilakukan kemarin sore, tim membeli sejumlah sampel makanan di Pasar Bantul dan depan Puskesmas Imogiri untuk dites laboratorium.
"Untuk yang makanan itu, harusnya pakai pewarna makanan dan tidak menggunakan perasa. Orang puasa itu kan makanannya juga harus sehat agar kondisinya tidak drop," kata Sulis di sela-sela acara sidak.
Sidak yang dilakukan pada penjual makanan di depan Pasar Bantul, ditemukan makanan yang tidak sesuai bungkusnya. Dalam plastik pembungkusnya tertera tulisan Sari Kedelai, tetapi justru digunakan untuk membungkus koktail.
Ada pula makanan yang tidak mencantumkan nomor Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan tidak ada tanggal kadaluarsa. Sulis mengatakan, saat ini pihaknya baru mengambil sampel makanan yang biasa dijajakan menjelang berbuka puasa.
Namun bila setelah dites ternyata mengandung zat berbahaya, pemerintah akan memberi pembinaan. Sedangkan sidak yang dilakukan di toko kelontong juga ditemukan ratusan bungkus makanan sudah kadaluarsa.
"Untuk jus buah misalnya, pedagang harus tahu kalau itu hanya bagus untuk konsumsi satu hari. Tadi sudah kita lakukan sosialisasi," tambah Sulis.
Salamah, salah satu pedagang yang kedapatan ada barang kadaluarsa di tokonya mengaku sudah sering mengecek barang dagangan yang dimiliki. Namun ia mengaku kurang teliti sehingga ditemukan barang kadaluarsa dan diberi surat peringatan oleh Disperindagkop.
"Itu nyelip. Biasanya saya teliti. Udah ya mas mau tutup dulu," ujarnya sembari menutup warung. (say)