Lipsus TPA Piyungan Kritis

Kesadaran Masyarakat Bisa Kurangi Volume Sampah

Jika pengolahan diawali dari sumbernya, yaitu di masyarakat, berarti volume TPA akan berkurang

Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Harry W

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - KEPALA UPT Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Piyungan, Surono, mengatakan kesadaran masyarakat dapat menjadi faktor penting untuk mengurangi sampah yang masuk TPA.

Jika pengolahan diawali dari sumbernya, yaitu di masyarakat, berarti volume TPA akan berkurang. Namun hal itu perlu dilakukan secara menyeluruh dan bersama-sama seluruh masyarakat.

Selama ini, masyarakat yang aktif dalam pengolahan sampah baru sebagian kecil. Dengan demikian, peran masyarakat, belum terlalu dapat mengurangi volume sampah TPA.

"Sekarang memang kondisi sampah di TPA itu campur semua. Volumenya bahkan setiap tahun naik sekitar 50 ton. Tiga tahun lalu per hari 300 ton, sekarang menjadi 450 ton per hari," kata Surono, Rabu (18/6).

Meski begitu, kenaikan volume sampah di TPA di sisi lain juga berarti muncul kesadaran masyarakat untuk mengumpulkan sampah. Hanya, akan lebih baik jika pengumpulan itu sekaligus juga dipilah, hingga di TPA.

Sayang, di TPA Piyungan saat ini bahkan belum menerapkan pengolahan sampah, dan hanya ditumpuk hingga menggunung. Meski overload, TPA Piyungan menurutnya belum pernah diperluas.

Sementara semakin hari kian overload, Surono dan Sekretariat Bersama Kartamantul mengaku pernah menjajaki rencana kerjasama dengan pihak ketiga, untuk mengolah atau mengurangi volume sampah Piyungan.

"Dengan Jepang pernah. Lalu terakhir mau kerjasama dengan Holcim. Harapannya sampah bisa diambil untuk pembakaran di pabrik sehingga TPA kembali zero. Tapi mau bagaimana lagi sebentar lagi kan akan diambilalih provinsi," katanya.

Manajer Kantor Sekber Kartamantul, Nasa Ujiarto Aji, Jumat (20/6), membenarkan, rencana kerjasama dengan Jepang sudah masuk pada implementasi. Sementara rencana pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar di pabrik semen, saat ini sedang dalam tahap studi dan pengkajian.

"Karena ada peralihan pengelolaan ke Pemda DIY, maka itu sekarang juga ditangani DIY," kata Nasa. (Tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved