Agenda
Melankolia Tampilkan Lima Pelukis Berbakat
Sangkring Art Project akan menggelar pameran bertajuk Melankolia mulai 19 Juni hingga 2 Juli mendatang.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sangkring Art Project akan menggelar pameran bertajuk Melankolia mulai 19 Juni hingga 2 Juli mendatang. Pembukaan pameran akan berlangsung pada Kamis (19/6) pukul 19.30 di Sangkring Art Project yang beralamat di Nitiprayan RT 01/20 nomor 88 Yogyakarta.
Para seniman yang karya-karyanya dipamerkan di Sangkring Art Project ini berkiprah di luar kota-kota yang sudah terkenal dengan kegiatan seni rupanya. Mereka bekerja di kota-kota Malang, Batu dan Mojosari. Sebagian besar seniman ini bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan seni rupa secara formal.
Tapi tentu saja mereka tidak terlalu asing dengan apa yang terjadi pada seni rupa di Indonesia atau bahkan seni rupa di lingkup global yang sekarang ini mengkondisikan semua seniman. Beberapa seniman bahkan baru akan memulai debutnya pada pameran tunggal, dan yang lain bahkan sudah pernah membuat projek seni rupa yang berskala besar.
Seniman pertama, Antoe Budiono, 49 tahun, berpengalaman sebagai tukangnya seniman. Dari pengalaman yang mumpuni sebagai artisan dan modal pengalaman bergaul dengan para seniman setempat, Antoe sejak beberapa tahun lalu memutuskan untuk berkarir secara mandiri. Antoe menunjukkan kemandirian tema-tema lukisannya sendiri, yakni aktifitas rutin sehari-hari yang dilukis dengan teknik melukis realis yang teliti, dengan teknik 'barikan' yang diterapkan oleh banyak seniman di Batu dan Malang. Sejak lama kedua kota ini memang dikenal menghasilkan pelukis-pelukis dengan teknik melukis realis yang tinggi.
Seniman lain, Gatot Pujiarto, 44 tahun, barangkali paling dikenal di antara nama-nama yang lain. Seniman lulusan Jurusan Seni Rupa dan Desain, Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP; sekarang dikenal sebagai Universitas Negeri Malang) ini sudah pernah menjalani program residensi dan beberapa kali mengadakan pameran tunggal. Karyanya menggunakan medium yang tidak biasa, yaitu sisa kain atau kain perca. Dia memanfaatkan teknik jahit menjelujur untuk menyusun mosaik potongan kain, menggabungkannya dengan teknik memilin dan mengikat benang. Kain dan benang menjadi sarana yang ekspresif, mengikuti mood dan intuisi seniman untuk menyusun garis, bidang, bentuk dan warna.
Sementara Iwan Yusuf, 32 tahun, berkarir melalui lukisan-lukisan potret sebagai pelukis emperen. Semangat belajarnya untuk mengembangkan teknik melukis potret yang rinci dan ketertarikannya akan pesona wajah seseorang mendorongnya untuk memahami potret sebagai narasi wajah seseorang yang tidak bersifat verbal. Iwan juga tertarik dengan variasi medium, dengan berbagai alternatif bahan yang dengan cepat bisa merangsang sensibilitas realisnya. Iwan menggunakan berbagai bahan, dari kanvas, silikon, kayu, eceng gondok sampai jaring ikan untuk karya-karya realisnya.
Di antara nama-nama itu, ada seniman dari Mojosari yang namanya dikenal di kalangan galeri dan kolektor setempat, yakni Joni Ramlan, 44 tahun. Lukisan-lukisan Joni disukai karena keartistikan garis dan penggunaan warna-warnanya yang manis. Dalam pameran ini Joni berusaha menemukan abstraksi bentuk-bentuk karyanya untuk memperoleh kemungkinan bahasa visual yang lain yang tidak terlalu dekoratif. Dia juga tertantang untuk menggubah karya instalasi rongsokan sepeda sebagai cara untuk menjelajahi kepekaan ruang.
Sedangkan 'Keo' Budi Harijanto, 55 tahun, sudah dikenal sebagai pelukis komik yang mumpuni sejak tahun 90-an. Dia sudah melahirkan ratusan jilid komik, umumnya komik-komik adaptasi gaya manga dengan cerita yang dikembangkan sendiri. Tapi 'Keo' adalah juga seorang yang piawai dalam teknik menggambar. Kepekaan pada gambar inilah yang kemudian ditemukannya kembali pada foto-foto digitalnya. Foto-foto Keo sangat rinci dan peka pada warna, pada nuansa gelap dan terang. Dengan sangat mendalam ia menggali sisi-sisi traumatis pengalaman personalnya sendiri di masa kecil sampai remaja.
Melankolia pada pameran ini bukanlah suatu metode pembacaan terhadap karya-karya yang dipamerkan, melainkan usaha untuk memaknai perjuangan para seniman, baik secara artistik maupun psikologis. Usaha-usaha itu dilakukan seniman untuk menempatkan diri dalam perkembangan seni rupa di masa ini. Di satu sisi, mereka sudah memilih berkarier di dunia kesenimanan, di sisi lain, seringkali muncul rasa frustrasi untuk memahami seluk-beluk seni rupa yang mereka cintai. Rasa frustrasi itu kerapkali juga bisa ditemukan dalam rangka memaknai representasi karya-karya mereka sendiri. Antara rasa frustrasi dan dorongan untuk terus mengembangkan diri di tengah percaturan seni rupa yang makin luas, ditambah perasaan sebagai seniman-seniman yang di lingkungan yang dianggap marginal, melahirkan semacam perasaan melankoli pada seniman-seniman ini. (*)