Tribun Otomotif
Pedagang Onderdil Motor Lawas Bisa Untung 300 Persen dari Harga Asli
Berbekal kecintaan pada motor lawas, beberapa orang membuka lapak penjualan sparepart motor lawasan
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: tea
Menurut Yoga, sparepart lawasan tidak selalu berupa barang bekas. Ada kalanya, malah barang baru yang sama sekali belum dipakai. Bagaimana bisa?
“Pengalaman saya, ada sebagian toko yang dulu menyetok sparepart motor. Namun karena terlalu lama tidak laku, atau karena suatu hal lain, gudang ditutup sementara di dalamnya masih tersimpan banyak sparepart yang belum dibuka. Inilah harta karun pemburu sparepart. Butuh ketekunan dan koneksi untuk menembus para pemilik gudang tersebut,” ungkapnya.
Untuk sparepart baru pada motor tua ini, harganya yang gila-gilaan dan banyak dicari. Namun bagi mereka yang kepepet, sparepart original namun bekas pun masih jadi pilihan. Asal kondisinya 60-70 persen bagus, biasanya masih ada peminatnya.
Pengalaman berbeda dirasakan oleh Satoto. Penggemar motor Honda C50 dan C70 ini lebih getol berburu sparepart motor lawasan. Demi mendapatkan sparepart baik untuk dipakai sendiri maupun dijual lagi, ia rela berburu hingga ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bermula dari pengalamannya kesulitan mendapatkan sparepart, ia kini cukup dikenal sebagai penjual sparepart lawas.
“Awalnya, pada 2008, saya berburu sendiri untuk motor C70 saya. Waktu itu masih di seputaran Yogya. Selain nemu sparepart yang saya cari, saya juga nemu lampu sein unik warna biru. Iseng, saya upload di Facebook. Ternyata ada yang nyari, terus saya jual. Ternyata keuntungannya lumayan,” jelasnya.
Satoto pun kemudian menekuni usaha jual beli sparepart tersebut. Pada tahap awal, seperti Yoga, ia juga berburu di toko-toko sparepart yang telah lama ada di Yogya dan pasar klithikan. Namun, ia juga mengembangkan wilayah buruannya hingga ke luar Jawa.
“Kebetulan ada keluarga di Banjarmasin. Saya pun kalau ada kesempatan ke sana untuk nyari suku cadang. Kebetulan, di sana masih banyak gudang tua yang belum banyak tersentuh. Sebabnya, orang sana kecenderungannya beli motor baru daripada ngopeni motor lawas. Namun, tentu saja masih ada hambatannya yaitu pemilik toko maupun gudang biasanya orangnya kolot sehingga diperlukan ketekunan untuk membujuknya,” katanya sambil tertawa.
Kesulitan lainnya yang datang setelah mendapatkan sparepart yaitu menjualnya. Menurut Satoto, pada 2008 penjual masih sedikit. Namun saat ini mulai marak. Parahnya, tidak semua penjual memahami sparepart lawas yang dijualnya.
“Banyak yang tahu kalau harga sparepart lawas mahal, terus ikut-ikutan jual padahal kualitas jelek. Itu yang merusak pasar,” katanya.(toa)