Tribun Otomotif
Pedagang Onderdil Motor Lawas Bisa Untung 300 Persen dari Harga Asli
Berbekal kecintaan pada motor lawas, beberapa orang membuka lapak penjualan sparepart motor lawasan
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Berbekal kecintaan pada motor lawas, beberapa orang membuka lapak penjualan sparepart motor lawasan. Satu di antaranya adalah Yoga Bagus Prayogo (19) yang memiliki usaha jual beli sparepart motor lawas bernama “Lapak Bergerak.” Pemuda yang baru saja lulus dari SMSR ini fokus pada usaha menyediakan sparepart motor Jepang lawas.
Mulai dari spion, blok mesin hingga baut pun ia sediakan bagi mereka yang membutuhkan. Untuk menjual dagangannya, ia cukup aktif di media social dan situs jual beli online. Setiap bulannya omzetnya bisa mencapai jutaan rupiah.
Ketika ditemui, Jumat (30/5/2014), Yoga mengungkapkan, usahanya ini berawal pada 2011. Saat itu ia yang memiliki motor CB warisan keluarga kesulitan mencari sparepart. Iapun kemudian berkenalan dengan beberapa penjual. Dari mereka Yoga tahu bahwa suku cadang motor tuanya diperoleh dari berburu di berbagai tempat.
“Saya penasaran dan pengen nyoba nyari sendiri. Saya awali dari nyari di lapak-lapak barang bekas dan toko-toko di seputaran (jalan Brigjend, red) Katamso. Ternyata dapet juga,” lanjutnya.
Tidak hanya dipakai sendiri, karena mendapatkan beberapa suku cadang yang langka, beberapa teman kemudian membelinya. Dari situ Yogya kemudian terpikir untuk mulai mencoba usaha berjualan sparepart motor lawasan.
“Ternyata, keuntungannya luar biasa. Barang bisa dijual hingga 300 persen dari harga aslinya. Tentunya hal ini selain karena sparepart sudah sulit diperoleh, mendapatkannya harus berburu hingga ke berbagai pelosok wilayah. Kalau saya yang terjauh hingga ke Magetan dan Banyuwangi,” imbuhnya.
Mengingat varian motor lawas yang sangat luas, Yoga pun kemudian berkonsentrasi pada motor Jepang lawas saja. Bukan tanpa sebab, selain pengetahuannya yang cenderung ke motor Jepang, sparepartnya pun tidak sesulit motor Eropa lawas.
“Kalau mau ke motor Eropa lawas, keuntungannya juga lebih besar. Tapi ya itu, nyari suku cadangnya sulit bukan main,” kata pemuda berkacamata ini.
Mengenai sparepart yang paling banyak dicari, menurut Yoga, biasanya konsumen mencari spion, lampu sein, headlamp, tangki, dan jok. “Pokoknya, kalau body part, itu yang paling banyak dicari,” imbuhnya.
Sedangkan untuk pembeli, umumnya malah berasal dari luar Yogya misalnya Jakarta dan Bandung. Menurut Yoga, hal itu disebabkan kecenderungan penggemar motor tua di sana yang maniak sparepart original. Bahkan untuk sekedar baut saja, mereka mencari yang original.
“Kalau sudah maniak ori (original, red), mereka biasanya gak mikir hargaa. Asal dapat saja senangnya bukan main. Itu yang membuat harga bisa jadi luar biasa,” jelasnya.
Sparepart motor lawasan memang terdiri dari dua macam yaitu original dan repro. Untuk yang pertama ini banyak diminati karena lebih kuat dan menambah keaslian motor. Sedangkan untuk yang repro, meskipun cukup mudah mendapatkannya namun cenderung kurang disukai penggemar fanatic motor tua.
Menurut Yoga, penjual yang berpengalaman tahu bagaimana membedakan sparepart motor lawas asli dan repro. Tidak hanya mengandalkan nomor sparepart, biasanya ada cirri khusus dalam sparepart asli.
“Contohnya, untuk Honda, tiap bagian sparepart tidak selalu bertuliskan Honda. Misalnya pada spion, cirri yang asli ada tulisan ‘MS Japan,’ untuk kabel ada kode ‘TEC,’ sedangkan pada lampu malah bertuliskan ‘Stanley.’ Namun, untuk bagian lain masih ada yang mencantumkan tulisan Honda misalnya pada tangki dan jok,” paparnya.