Obat Herbal Selalu Amankah?
Dalam benak kita atau mungkin dalam benak sebagian besar orang tentu akan berpikir bahwa penggunaan obat herbal mestilah aman-aman saja
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PENGGUNAAN obat herbal pada saat ini begitu marak, baik itu yang terdaftar di Badan POM maupun tidak. Apalagi saat ini pemerintah juga tengah gencar-gencarnya mendukung berkembangnya industri obat herbal.
Dalam benak kita atau mungkin dalam benak sebagian besar orang tentu akan berpikir bahwa penggunaan obat herbal mestilah aman-aman saja karena ia berasal dari alam.
Ternyata pendapat ini tidak sepenuhnya benar, obat herbal memang berasal dari alam, tapi kalau kita berpikir bahwa itu selalu aman kita mesti berpikir ulang. Bukan bermaksud menakut-nakuti tetapi mengajak kita untuk tetap selalu dalam kerangka berpikir rasional.
Ketika kita minum obat herbal pernahkan terpikir oleh kita dimana tempat tumbuh bahan yang digunakan untuk pembuatan obat herbal tersebut? Mungkin tidak terpikir. Berdasarkan pengalaman penulis yang pernah melakukan standarisasi suatu bahan obat herbal (waktu itu berupa daun kepel kering) ternyata ditemukan kandungan cemaran logam berat dari simplisia yang diuji, dan jumlahnya melebihi batas maksimum yang diperbolehkan oleh Badan Standarisasi Nasional Indonesia.
Simplisia adalan bahan alam yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Pada waktu itu jumlah cemaran logam berat (Hg/merkuri) dalam simplisia yang diuji sebesar 0,72 mg/kg melebihi batas maksimal yang diperbolehkan sebesar 0,03 mg/kg.
Hal tersebut dijumpai untuk simplisia yang diambil dari tumbuhan yang tempat tumbuhnya dekat dengan daerah pantai dan tidak dijumpai hal yang sama untuk simplisia yang diambil dari daerah pegunungan.
Memang kasus ini mungkin hanya ditemui satu atau dua kasus, tetapi kita tidak bisa memprediksi berapa besar peluang hal ini akan terjadi terutama untuk obat herbal yang tidak terdaftar di Badan POM. Dan hal tersebut tentu tidak tertutup kemungkinan terjadi untuk cemaran logam berat yang lain seperti halnya arsen (As), cadmium (Cd), timah (Sn) dan timbal (Pb). Padahal kita tahu bahwa Hg dan juga cemaran logam berat yang disebutkan sangat berbahaya bagi tubuh kita.
Sebagaimana diketahui senyawa-senyawa tersebut bersifat sangat sedikit larut dalam air (kurang dari 1 g/liter), hal ini dapat menyebabkan penumpukan karena sulit dikeluarkan dari dalam tubuh. Bila terjadi penumpukan maka dapat menyebabkan berbagai macam gangguan diantaranya gangguan pada system syaraf, system urogenital, system reproduksi, system hemopoetik dan juga dermatitis tergantung dari jenis logam berat yang masuk serta lamanya paparan.
Penemuan cemaran logam berat dalam bahan baku obat atau sediaan herbal tidak hanya dialami oleh penulis tetapi juga sudah banyak publikasi yang membahas tentang hal ini. Seorang peneliti bernama Edzard Ernst menyebutkan bahwa berbagai kontaminan yang paling sering ditemukan dalam sediaan herbal adalah debu, serbuk sari, parasit, mikroba, serangga, cemaran dari tikus, jamur, pestisida dan logam berat.
Sedangkan efek samping yang dialami pasien juga beragam mulai dari kegagalan multi-organ, agranulositosis (suatu keadaan dimana jumlah leukosit dan neutrofil sangat rendah sehingga tubuh tidak terlindungi dari serangan bakteri atau agen lain), meningitis (peradangan akut pada system selaput pelindung otak dan sumsum tulang belakang), stroke, keracunan timbal, keracunan merkuri, keracunan arsen, kanker, kerusakan ginjal, gagal hati, gagal ginjal yang lebih lanjut bisa mengakibatkan koma atau bahkan kematian.
Mengingat bahaya yang mungkin terjadi alangkah baiknya berhati-hati jika ingin mengggunakan sediaan herbal dan tentu pengawasan dari pihak-pihak berwenang sangatlah dibutuhkan untuk melindungi konsumen. Gunakanlah obat-obat herbal yang telah terdaftar di BPOM, sehingga diharapkan telah dilakukan penilaian dan pengawasan terhadap proses produksinya. (*)
Oleh: Purwantiningsih, Apt
Fakultas Farmasi UGM