Kasus Udin

Rektor Atma Jaya Mengenang Masa Kecil saat Bermain dengan Udin

Saat bermain sepakbola, Udin biasa jadi kiper sementara saya penyerang. Jadi kami sering gaprakan,"

Penulis: nbi | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Niti Bayu

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - "Saat bermain sepak bola, Udin biasa jadi kiper sementara saya penyerang. Jadi kami sering gaprakan (adu kaki)," kenang Dr R Maryatmo MA sembari tersenyum.

Pria yang kini menjabat sebagai rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) itu mengingat masa kecilnya dulu ketika dirinya dan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin, tinggal bertetangga di Kabupaten Bantul, DIY.

Kenangan yang Maryatmo bagikan tidak berhenti sampai di situ. Dirinya menceritakan, dulu ayahanda Udin selalu menjadi imam saat penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha.

"Udin badannya gemuk besar. Ia selalu mengikuti ayahnya saat penyembelihan kurban di depan rumahnya," katanya.

Saat mendengar kabar kawan masa kecilnya itu meninggal pada tahun 1996, Maryatmo pun mengaku merasa shock. Meskipun sudah lama tidak berhubungan, perasaan terkejut masih membekas bagi Maryatmo.

"Saat itu saya sudah tidak tinggal di Bantul, melainkan sudah pindah ke Kota Yogyakarta," ujarnya.

Rangkaian kenangan tersebut Maryatmo bagikan kepada para wartawan perwakilan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta yang hadir di Student Lounge UAJY, Jl Babarsari, Yogyakarta, Kamis (9/1/2014).

Dalam kesempatan tersebut, para wartawan bersilaturahmi kepada jajaran Rektorat UAJY menjelang dilaksanakannya eksaminasi sidang pra peradilan kasus Udin yang rencananya akan dilaksanakan pada 28 Januari mendatang. UAJY akan menjadi tuan rumah gelaran tersebut.

Maryatmo melanjutkan, dirinya menganggap kasus Udin merupakan warisan dari rezim pemerintahan yang pernah bercokol begitu kuat di Indonesia. "Karena itulah kasus pembunuhan Udin sulit diselesaikan dan begitu rumit," katanya.

Ia berpendapat, orang-orang dari rezim lama tersebut masih mempunyai pengaruh yang begitu kuat.

Menurut pria yang menjadi rektor sejak 1 April 2011 tersebut, UAJY selama ini memiki perhatian terkait penyelesaian kasus Udin. Menurutnya, pembunuhan tersebut berlawanan dengan visi UAJY, yaitu Unggul, Inklusif, dan Humanis.

Melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, ujar Maryatmo, UAJY kerap mengadakan diskusi dan penelitian seputar kasus pelanggaran HAM dan pengekangan kebebasan jurnalistik, termasuk soal Udin. Bahkan hasil penelitian tersebut telah dibukukan.

Selain itu, pada sidang pra peradilan kasus yang diajukan PWI terhadap Polda DIY di PN Sleman, Dekan FISIP UAJY Dr Lukas S Ispandriarno MA juga hadir sebagai saksi ahlil.

"Solusi yang paling tepat adalah jangan berhenti memperjuangkan ditegakkannya keadilan untuk Udin. Jangan sampai kita lelah dan masyarakat lupa. Jangan pernah menyerah," ujar Maryatmo mantap.

Halaman 1/2
Tags
Kasus Udin
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved