Penyadapan

Pelajar SMP Muhammadiyah 2 Sawangan Ikut Kecam Penyadapan

Sebelum melakukan orasi, para siswa juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Mona Kriesdinar

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG- Ratusan siswa SMP Muhammadiyah 2 Sawangan, Kabupaten Magelang, menggelar aksi protes terkait kasus penyadapan sejumlah pejabat negara dan Presiden Indonesia oleh Australia, Sabtu (23/11/2013). Para siswa di lereng Gunung Merapi ini menganggap kasus penyadapan tersebut, telah melecehkan harga diri bangsa.

Dengan membawa spanduk kecaman bertuliskan “Penyadapan=neokolonialisme”, “Dibutuhkan Tata Dunia yang Beradab”, dan juga tulisan lain, siswa tersebut kemudian menggelar aksi di halaman sekolah. Beberapa siswa juga membawa gambar burung garuda yang digendong seekor kanguru.

Sebelum melakukan orasi, para siswa juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tak luput dari aksi tersebut, siswa juga mengibarkan bendera merah putih. Meski panas terik menyengat, mereka tetap bersemangat untuk mengajak masyarakat lainnya untuk tetap menjaga nasionalisme.

“Kami melihat dan membaca pemberitaan tentang penyadapan ini, menjadi sangat gelisah. Sebab, penyadapan itu dilakukan pada simbol-simbol negara,” ujar salah satu siswa Ida Setyangsih, Sabtu (23/11/2013).

Ida mengungkapkan penyadapan yang dilakukan oleh Australia, merupakan bentuk pelecehan terhadap bangsa Indonesia. Ia juga mengatakan penyadapan ini bisa terjadi karena adanya kelemahan di beberapa bidang kenegaraan seperti ekonomi, teknologi dan pertanian.

“Maka, kami selaku pelajar dan anak bangsa, mengajak agar Indonesia bangkit di bidang pangan dan teknologi, sehingga tidak dilecehkan bangsa lain. Kita juga harus tetap memiliki rasa nasionalisme yang tinggi,” ujar Ida yang juga merupakan Ketua OSIS SMP Muhammadiyah 2 Sawangan ini.

Salah satu guru, Ahmad Taufik mengatakan, unjuk rasa ini memang merupakan inisiatif dari siswa dan pihak sekolah. Ia mengatakan ratusan siswa yang mengikuti aksi ini, terdiri dari kelas VII dan kelas VIII.

“Dengan adanya aksi ini, kita bertujuan untuk menumbuhkan kekritisan siswa dan anak dengan informasi. Selain itu, juga melalui pendidikan kami menanamkan rasa nasionalisme pada anak,” kata Taufik.

Taufik memandang penyadapan ini merupakan bentuk neokolonialisme modern. Ia menyebut ada sisi lemah dan keterpurukan di bidang ekonomi, teknologi, dan pertahanan, yang harus lebih di tingkatkan oleh Indonesia. (*)

Tags
Magelang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved