Kekayaan Cagar Budaya Kecamatan Lasem

Jejak Sejarah Perdagangan Opium Zaman Belanda di Lawang Ombo

Bangunan 1830-an itu kini masih berdiri kokoh dengan sisa-sisa jejak praktik penyelundupan Narkoba oleh warga Tionghoa kala itu

Penulis: bbb | Editor: Mona Kriesdinar

Laporan Reporter Tribun Jogja, Bakti Buwono Budiastyo

TRIBUNJOGJA.COM, REMBANG - Petikan sejarah perdagangan opium pada masa Hindia-Belanda masih bisa ditemui di Lawang Ombo (eks Rumah Candu), di Jalan Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jateng. Bangunan yang dibangun pada 1830-an itu kini masih berdiri kokoh dengan sisa-sisa jejak praktik penyelundupan Narkoba oleh warga Tionghoa kala itu.

Hanya berjarak sekitar 100 meter dari Sungai Babagan, Lawang Ombo berdiri. Di satu sudut ruangan terdapat semacam sumur berdiameter 70 sentimeter. Di dalamnya masih ada genangan air. Siapa sangka, sumur ini ternyata pernah menjadi jalur utama penyelundupan opium.

"Jadi, di dalam sumur ada terowongan yang menghubungkan ke laut. Terowongan itu cukup untuk jalur sampan kecil yang mengangkut opium," jelas Tetua Dusun Dasun, Gandor Sugiharto (68) di lokasi, Minggu (13/10/2013).

Pada zaman itu, Sungai Babagan merupakan jalur utama perdagangan dari lepas pantai Rembang. Setelah rumah, tidak ada jalan selain sungai. Namun, kedatangan penjajah Belanda membuat tata ruang waktu tiu berubah. Belanda membuat dermaga di lepas Pantai Rembang, dan membuat jalan di depan Lawang Ombo.

Praktik penyelundupan opium kala itu cukup mudah. Sampan kecil dibawa masuk ke terowongan. Lalu ada orang bersiap di atas sumur dan mengangkuti opium dengan kayu satu per satu. Kala itu, banyak modus untuk menyelundupkan opium.

Dahulu, diameter sumur cukup lebar, lebih dari satu meter. Tetapi, karena banyak pengunjung terperosok ke lubang sumur, hal itu membuat pengelola pun memperkecil ukuran lubang. Terowongan pun tertimbun lumpur cukup tinggi sehingga tidak tampak lagi.

"Yang punya (Lawang Ombo) namanya Pak Soebagyo, yang juga punya Mayora itu. Dulu ia beli dari sepupunya," jelas Gandor.

Adapun bentuk fisik Lawang Ombo, saat Tribun mengunjunginya bersama rombongan Yayasan Widya Mitra, Minggu, masih cukup terawat. Ada dua bangunan utama dengan arsitektur khas Tionghoa yaitu Cina dan ornamen di masing-masing ruangan. Salah satu ruangan di bangunan depan, dahulu, menjadi tempat penyimpanan opium.

"Bangunan belakang terdiri dari dua lantai. Ada kamar khusus untuk nyandu. Ingat Sheesha dari Arab? Nah, seperti itulah orang-orang zaman dahulu, menghisap opium sambil tiduran. Ruangannya ada di lantai dua," tambah Gandor, yang juga pengurus Yayasan Tri Darma kelenteng Cu An Kiong itu.

Tangga Curam
Untuk menuju ke ruang candu, para pengunjung harus naik tangga yang cukup curam. Tidak ada pintu; hanya ada kotak kecil seukuran setinggi orang dewasa sebagai akses masuk. Selain bangunan yang masih asli, termasuk kayunya, juga terdapat peninggalan jangkar dari kapal kuno.

Saat ini, Lawang Ombo seluas 6.000 meter persegi ini lebih dikenal sebagai objek wisata khas Rembang. Dibangun oleh seorang Kapiten Cina bermarga Liem. Adapun Soebagyo adalah keturunan ketujuh dari pemilik pertama itu.

Pada masa penjajahan Belanda terdapat lima ladang opium di pesisir Jawa yaitu Cirebon, Tegal, Pekalongan, Kediri dan Rembang. Awalnya opium dijual bebas, namun Belanda kemudian membatasinya karena beberapa alasan. Saat itulah, penyelundupan opium pun marak.

Lawang Ombo hanyalah satu di antara beberapa cagar budaya dalam program Heritage Walk ke-6 ke kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Minggu (13/10). Program itu diadakan Yayasan Widya Mitra bersama Erasmus Huis.

Sejumlah tempat-tempat bersejarah Lasem yang dikunjungi yaitu Lawang Ombo, dan Kelenteng Cu An Kiong (kelenteng tertua di Jawa). Juga, mengunjungi pengusaha batik Lasem tertua dan pabrik pembuataan keramik yang beroperasi sejak 1800.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved