Ratusan Tenongan Penuhi Tradisi Nyadran di Boyolali
warga Boyolali selalu melakukan ritual nyadran atau berziarah ke makam para leluhur
Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: Rina Eviana Dewi
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, BOYOLALI – Jelang bulan Ramadan, warga Boyolali selalu melakukan ritual nyadran atau berziarah ke makam para leluhur. Uniknya, warga dari berbagai kampung datang bersamaan ke makam sambil membawa berbagai makanan dalam wadah tenongan.
Sejak pagi sekitar pukul 06.00, warga mulai berdatangan ke area pemakaman Gunung yang terletak di kampung Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Mereka membawa tenongan, yakni wadah berbentuk bulat dari anyaman bambu. Wadah yang dibawa dengan menyunggi di kepala berisi beraneka ragam makanan.
“Ini sudah tradisi turun temurun. Makanan itu sebagai bentuk sedekah warga,” kata H Muhadi, sesepuh warga, Selasa (25/6) pagi. Warga datang berjalan kaki, naik motor, hingga berombongan naik mobil bak terbuka. Tenongan-tenongan yang dibawa kemudian dijejer di dekat pohon beringin besar. Jumlah tenongan mencapai ratusan buah.
Menurut Muhadi, nyadran rutin dilakukan warga pada tanggal 16 Sya’ban. Ritual ini didahului dengan pembacaan surat Yasin pada malam sebelumnya. Setelah itu dilanjutkan dengan kerja bakti bersih-bersih area makam sekitar pukul 05.00. Kemudian berlanjut ritual nyadran yang dimulai pada pukul 08.00.
Ratusan warga memenuhi area makam yang kondisinya berbukit dan dipenuhi pohon kamboja tak berdaun tersebut. Begitu tiba, warga langsung menuju makam leluhur dan membacakan ayat-ayat suci Alquran. Beberapa warga lainnya mengeliling tenongan yang dijejer hingga belasan meter. “Doa-doa dipanjatkan warga agar tak lupa pada leluhur,” katanya.
Setelah seluruh tenongan dijejer, ritual nyadran dimulai dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh sesepuh. Seluruh warga terlihat khusuk. Ratusan tenong tadi langsung dibuka serentak usai doa selesai dibacakan. Kerukunan terlihat jelas karena seluruh warga menyantap hidangan bersama-sama.
Warga saling bertukar makanan satu sama lain. Mereka juga menawarkan makanan yang dibawa kepada warga lain dari luar daerah yang penasaran ingin melihat langsung jalanya prosesi nyadran. “Silahkan mas, ini disantap hidangannya. Hanya makanan seadanya, bukan makanan mewah,” kata Sumantri, salah seorang warga yang menawarkan makanan kepada Tribunjogja.com. (*)