Guru Besar Termuda UGM Yogyakarta
Agung Endro Ingin Fakultas Farmasi UGM Jadi Leading Faculty
Agung Endro juga dikenal low profile alias rendah hati. Status yang sering ia pasang di peranti Blackberry-nya pun memperlihatkan hal tersebut.
Penulis: jun | Editor: jun
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Profesor Agung Endro Nugroho MSi PhD Apt. Begitulah nama lengkap pria kelahiran Solo, Jateng, 15 Januari 1976, ini. Benar, meski baru berusia 36 tahun, Agung telah bergelar profesor. Ia pun menjadi Guru Besar termuda di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.
Penampilan sehari-hari putra pasangan Moedjijono (almarhum) dan Niniek Soedarni ini seolah bukan sosok ilmuwan dan akademisi, terlebih saat di luar kampus. Agung Endro tampak kalem, santun, dan santai; tak beda dari figur-figur "biasa" seusianya. Ia juga pernah dikenal sebagai blogger karena, pada kurun waktu tertentu, sering menulis di blog alias ngeblog.
Agung Endro juga dikenal bersikap low profile alias rendah hati. Status yang sering ia pasang di peranti Blackberry-nya pun memperlihatkan sikapnya tersebut : Di atas langit ada langit - tetap jaga kerendahan hati kita....
Begitulah gambaran tentang sosok Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, yang menjabat Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Kerja Sama di fakultas tersebut. Adapun kepakaran Agung Endro adalah bidang farmakologi molekuler.
Suami dari Dr Pudji Astuti, dosen Fakultas Farmasi UGM, ini resmi menjadi guru besar setelah turun surat keputusan pengangkatan Guru Besar baginya, 1 Oktober 2012 lalu. Kini, di sela kesibukannya bekerja di kampus, Agung Endro sibuk menyusun pidato untuk pengukuhan guru besarnya pada akhir Maret 2013 nanti.
Ia memilih tema pidato tentang hal yang tidak jauh dari bidang ilmu yang ia tekuni. Intinya, tentang peran farmakologi klinik di dunia farmasi, terkait isu-isu terbaru dan tantangan-tantangan ke depan. "Sebagian waktu dan konsentrasi saya sekarang sedang fokus kepada pembuatan pidato tersebut," kata bapak dua anak ini, yang menghabiskan masa kecil di Kampung Slembaran, Serengan, Solo.
Berbincang dengan Tribun Jogja dalam berbagai kesempatan, tampaklah sikap low profile doktor lulusan School of Medicine Ehime University Matsuyana Japan tersebut Misalnya, komentar Agung tentang keberadaannya sebagai profesor termuda di UGM.
"Biasa saja, karena gelar itu bagian dari konsekuensi seorang dosen yang menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Semua dosen berpotensi dapat mendapatkan gelar itu. Cuma, cepat atau lambat sang dosen mencapai gelar tertinggi tersebut. Kalau ingin cepat ya on the track dan memperbanyak penelitian dan menulis buku," jelas bungsu dari lima bersaudara ini.
Mengenai menulis buku, untuk sementara Agung Endro telah menulis tiga buku, yaitu Nasib Obat dan Aksi Obat di dalam Tubuh, Pustaka Pelajar, tahun 2011; Farmakologi Obat, Pustaka Pelajar, 2012; dan Penanganan Hewan Percobaan, Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi UGM. Menurutnya, buku kedua menjadi best seller di kalangan mahasiswa maupun khalayak umum.
Adapun penelitian Agung Endro, antara lain, tentang tanaman isolat untuk menghambat pelepasan hestamin; dan tanaman sambiloto untuk mengisolasi senyawa aktif yang dinamakan andrografolid, untuk mempelajari efek-efeknya kepada hewan percobaan diabetes mellitus. Juga, penelitian tanaman Awar-Awar atau Ficus Septica, yang dikembangkan sebagai agen antikanker. Secara low profile pula Agung Endro menyatakan, semua penelitian ia lakukan melalui kerja sama dengan para seniornya di Fakultas Farmasi UGM.
Antara Obsesi dan Ngeblog
Setelah mengukir berbagai prestasi, termasuk menjadi Guru Besar termuda UGM, apa yang masih menjadi obsesi Agung Endro? "Saya berobsesi membawa Fakultas Farmasi UGM menjadi leading faculty dengan penelitian-penelitian berkualitas internasional," tegasnya.
Bagaimana dengan ngeblog? "Sejak lulus S-3 tahun 2009 tak sempat ngeblog lagi karena fokus menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Meski ngeblog, kalau menulis tentang sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat sebenarnya juga merupakan aspek pengabdian masyarakat. Cuma faktor waktu yang membuat aktivitas ngeblog terganggu. Suatu saat, kalau waktunya pas, saya akan aktif ngeblog lagi tentang ilmu-ilmu farmasi sehingga bisa bisa bermanfaat langsung ke masyarakat," ucap Agung Endro.
Mengenai obsesinya menjadikan Fakultas Farmasi UGM sebagai leading faculty, ada beberapa hal yang sudah dilakukan Agung. Antara lain, merancang desain penelitian yang berorientasi. Orientasinya ada tiga sasaran, yaitu produk inkubasi/protetipe, paten, dan publikasi jurnal internasional. "Penelitian-penelitin berkualitas juga sudah banyak dilakukan, tapi hampir sebagian besar dikawal hingga ke ketiga orientasi tersebut," jelasnya.
Adapun upaya yang masih akan dilakukan Agung agar obsesinya terwujud, di antaranya, penghiliran penelitian yang sudah berjalan untuk mencapai sasaran tersebut. Upayanya dengan temu peneliti dengan petinggi industri farmasi demi memanfaatkan produk penelitian menjadi produk unggulan nasional; meningkatkan kerja sama dengan pihak industri dalam bidang penelitian; workshop penulisan jurnal berkualitas internasional dan pemberian insentif bagi yang sudah mempublikasikan; dan workshop pengurusan paten. (*)