Waduk Mengering, Warga Kepuh Pilih Jadi Perajin Batu Bata

Para pengrajin batu bata ini banyak ditemui di Dukuh Kepuh, tepi waduk Lalung

Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: Iwan Al Khasni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik Irawan

TRIBUNJOGJA.COM, KARANGANYAR - Musim kemarau yang berkepanjangan membuat air di waduk Lalung, Karangnyar menjadi mengering. Akibatnya, para petani yang tinggal di sekitar waduk tak bisa bercocok tanam karena ketiadaan air. Agar dapur tetap mengepul, warga pun beralih profesi menjadi pengrajin batu bata.

Para pengrajin batu bata ini banyak ditemui di Dukuh Kepuh, tepi waduk Lalung. Jalan-jalan kecil di kampung hingga tanah lapang di tepi waduk dimanfaatkan warga untuk menjemur batu bata yang telah selesai cetak. Tak hanya menjemur, tepi jalan tersebut juga digunakan untuk membakar tumpukan batu bata yang sudah mengering.

Wagiyo, salah seorang pengrajin batu bata mengatakan, setiap musim kemarau tiba hampir sebagain besar warga lebih memilih membuat batu bata. Sebab, selain karena cuaca yang sangat mendukung, modal yang diperlukan tak begitu banyak.

“Tanah merah yang menjadi bahan dasar batu bata kita beli dari desa tetangga,” kata pria 50 tahun ini, Rabu (12/9/2012).

Harga bongkahan tanah untuk ukuran satu mobil bak terbuka ukuran kecil adalah Rp 50 ribu. Sedangkan untuk mobil bak terbuka ukuran sedang dibandrol Rp 60 ribu. Tugiyem, pengrajin batu bata lainnya mengatakan, setelah matang batu bata tersebut biasanya langsung diburu para pembeli yang datang langsung ke rumah.

Para pembeli kebanyakan adalah para kontraktor proyek perumahan. Namun kadang juga ada pembeli dari kampung tetangga yang hendak membangun rumah.

“Setiap 1.000 buah batu bata dihargai Rp 400 ribu. Jadi harga perbuahnya dijual Rp 400,” katanya. (tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved