Penembakan di Solo

Ada Lulusan Ponpes Ngruki Bernama Farhan

Hanya saja dia hanya membenarkan bahwa ada alumnus bernama Farhan.

Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Iwan Al Khasni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yosep Hary W

TRIBUNJOGJA.COM YOGYA -- Dua nama terduga teroris saat penggerebekan oleh Densus 88 di Desa Tipes Solo, Jumat (31/8) malam, yaitu Farhan  (19) dan Mukhlis (19) mendapat tanggapan dari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki.

Pengasuh Pondok Pesantren, Wahyudin mengatakan, belum bisa memastikan apakah keduanya lulusan pondok pesantren. Hanya saja dia hanya membenarkan bahwa ada alumnus bernama Farhan.

Anak tersebut kelahiran Jakarta dan ayah kandungnya telah meninggal dunia. Berdasarkan penelusurannya dalam data di ponpes, Farhan sejak lulus dari SD Nunukan di Kalimantan Timur lalu mengenyam pendidikan MTs di pondok yang diasuhnya itu.

Setelah menyelesaikan pendidikan setingkat SMP itu, menurutnya Farhan pergi entah melanjutkan di mana, pihaknya tidak mengetahui jika benar nama yang dimaksut adalah orang yang sama.

Di Jakarta,   anggota tim Disaster Victim Identivication (DVI) selesai melakukan pemeriksaan terhadap dua jenazah pelaku teroris Solo yang tewas ditembak anggota Densus 88.

Tim DVI menyambangi kamar jenazah Rumah Sakit RS.Sukanto, atau yang dikenal dengan RS.Polri, Kramatjati, Jakarta Timur sejak siang ini, Sabtu (01/09/2012), setelah dua jenazah teroris  tiba lebih dulu.

Selang lima belas menit kemudian, tim Indonesia Automatic Fingerprints Identification System (INAFIS) Mabes Polri yang berjumlah lima orang juga pergi meninggalkan kamar jenazah tempat kedua tubuh pelaku teroris itu disimpan.

Mereka datang di waktu yang hampir bersamaan dengan kedatangan tim DVI.

Dari pantauan Tribun, para anggota INAFIS yang mengenakan kaos orange itu, juga membawa sejumlah peralatan untuk mengidentifikasi jenazah.

Kepala RS.Polri Brigjend Pol Agus Prayitno saat dihubungi wartawan, mengatakan data hasil pemeriksaan oleh Polri terhadap kedua jenazah, akan langsung disampaikan ke penyidik Densus 88. "Itu nanti digunakan untuk melacak identitas kedua jenazah itu," katanya. (*)

Kapolri Jendral Polisi Timur Pradopo yang tiba di Mako Brimob Polda DIY mengatakan, telah melakukan langkah penanganan teroris secara pre-entive, penyelidikan, sampai penegakan hukum. Artinya, diupayakan agar tersangka tetap hidup. Namun ternyata tersangka melakukan perlawanan dan menyebabkan anggota densus 88, Bripka Suherman gugur.

Gugurnya anggota terbaik itu, menurutnya, menunjukkan bahwa memang ancaman dari teroris demikian tinggi. Ancaman itu bukan hanya terhadap petugas namun juga masyarakat.

Sementara, Kapolri mengaku masih melanjutkan penyelidikan. Tersangka yang diamankan akan dikembangkan. "Nanti akan ada penjelasan resmi," katanya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved