Inilah Sifat-Sifat Jokowi yang Banyak Disukai Orang Indonesia

Bisa dibilang Tahun 2012 adalah Tahun Jokowi, nanti di akhir tahun 2012 sudah dipastikan wajah Jokowi-lah yang akan mendominasi kenangan

Tayang:
Editor: tea

Karakter ini tak banyak dipunyai pejabat sekarang yang arogan, banyak dari pejabat publik atau wakil rakyat yang ditonton banyak orang seperti di Indonesian Lawyer Club asuhan Karni Ilyas di TV One, memamerkan arogansinya, disenggol sedikit marah, kelihatan maen bener sendiri, pinter bicara tapi tanpa tindakan dan selalu menyimpan dendam sampai dendam itu dibawa main hantam pukul-pukulan ditonton rakyat banyak.

Sekarang saat menjelang Putaran II, Jokowi dijelek-jelekkan terus asal usulnya difitnah ini itu, tuduhan yang nggak ada hubungannya dengan prestasi kerja, dan sebagainya terus dihembus-hembuskan untuk menyampaikan kebencian kepada kelompok yang belum menerima informasi siapa Jokowi. Tapi Jokowi tidak dendam tidak membalas dengan cara jahat tapi ia membalasnya dengan sikap diam saja, ia sabar dalam menerima cobaan, mungkin ia paham prinsip keberhasilan hidup seseorang : ‘Ketika seseorang diuji kesabarannya maka ia sedang diangkat derajatnya oleh Tuhan, orang yang direndahkan adalah orang yang ketika diuji kesabarannya tapi malah menyimpan dendam” dan Jokowi tak pernah menyimpan dendam, kejadian yang sudah ya sudah, cukup jadi pelajaran tapi tak boleh membalas dengan kejahatan baru, balas dengan kebaikan. Buktinya setelah dikata-katain Goblok oleh boss-nya di Semarang, ia malah ke DKI dan menjadi walikota paling terkenal sepanjang sejarah Republik Indonesia. Tuhan sudah mengangkat derajatnya.

Pekerja Keras

1342499250202697106
Jokowi adalah Pekerja Keras, Ia tidak Mau Muluk-Muluk, yang Penting Lakukan semua Soal dan Riil. Setiap Langkah Sederhana akan Menghasilkan Sesuatu (Sumber Photo : Official Website Jokowi)

Karakter yang paling menonjol dari Jokowi adalah pekerja keras, ia cepat mematerialkan sesuatu dari nggak ada jadi ada dengan kerja kerasnya, cara kerja Jokowi amat mirip dengan Obama dalam soal pemecahan masalah, ‘Selesaikan mulai dari inti persoalannya’ – Jokowi amat efektif soal waktu, ia sedari kecil harus menyelesaikan persoalan dengan cepat, karena setiap persoalan yang ditunda-tunda akan menghabiskan biaya dan energi, sementara ia tau dirinya orang miskin, jadi harus irit, demikian juga soal kerja.

Dalam bekerja Jokowi tampaknya menganut ilmu menanam Padi. “Barangsiapa menanam padi, pasti ada rumput yang mengikuti, tapi barang siapa menanam rumput tak mungkin ada padi yang mengikuti”. Artinya : Orang yang menanam kebaikan, pasti ada keburukan-keburukan baik sengaja atau tak sengaja, tapi orang yang menanamkan keburukan sudah pasti tak ada hal baik yang mengikuti”. Baginya kerja adalah menanam perbuatan, dan perbuatan pasti ada imbal hasilnya dari apa yang kita lakukan.

Kerja Jokowi dilandasi nilai-nilai baik, ia jujur dan dipercaya, ia juga bekerja keras, bila ia tak jujur mana ada orang Jerman percaya untuk ekspor meubel, di kalangan eksportir paling mengerti kalo orang Jerman itu amat keras soal kepercayaan.
Jokowi mau terjun langsung ke wilayah-wilayah, ia ngider tanpa capek, ia tenggelam dalam kerjanya rakyat, ingin tau rakyat kerjanya apa. Dari sini ia mempelajari bagaimana karakter orang dalam melihat masyarakatnya, lalu dengan kerja kerasnya ia bentuk sistem terpadu dimana akses-akses kesejahteraan bisa dibentuk.

Jokowi tidak sekedar bekerja keras saja, tapi ia kerja cerdas. Pembagian kartu kesehatan adalah contoh bagaimana ia secara sederhana menerapkan kerja cerdas. Ia memotong jalur birokrasi, bila dulu anggaran diendapkan sampai ada klaim asuransi Pemerintah dan jalur birokrasi yang panjang sehingga berpotensi disalahgunakan, maka dengan membuat kartu kesehatan ia menyelenggarakan asuransi publik dimana kaum miskin tidak usah mengeluarkan surat miskin tapi sudah memiliki jaminan kesehatan langsung tanpa birokrasi yang berbelit-belit.

Ia bekerja cepat, tanggap dan efisien, persoalan KTP yang berjangka waktu 2 minggu ia efektifkan jadi dua jam, gratis berarti disini Jokowi tidak melakukan intervensi pemerintah atas jam kerja masyarakat.

Jokowi bekerja keras soal efisiensi angkutan-angkutan pasar, efisiensi ketersediaan barang dan memastikan jangan ada hambatan komoditas masuk ke pasar-pasar, efektifitas ini menghasilkan tingkat inflasi yang rendah, bahkan rendahnya tingkat inflasi ini mendapatkan penghargaan dari Hatta Rajasa, dan mendapatkan pengakuan resmi dari SBY.
Prinsip kerja Jokowi yang membuat dia berhasil seperti ini adalah : -Kerjalah dari hal sederhana dulu, selesaikan persoalan-persoalan sederhana, tidak usah berpikir muluk-muluk yang penting kerja dan hasilkan yang riil-. Jokowi benar sekali karena ada adagium dalam soal kerja : “Sesuatu yang rumit biasanya dimulai dari persoalan-persoalan yang amat sederhana”. Jadi bila menunda-nunda pekerjaan yang sederhana sampai terbengkalai maka persoalan rumit akan timbul. Jokowi tak suka itu, ia juga tak terlalu mengawang-awang, apa persoalan depan mata selesaikan dengan cepat, soal lain muncul nanti dipikirkan.

1342499394169005392
Ngglenik, karakter Komunikasi Jokowi (Sumber Photo : Kaskus for Jokowi)

Komunikatif

Jokowi rupanya sangat memahami ilmu komunikasi, dari sisi ini ketrampilannya yang terbesar adalah cara berdialog dan bernegosiasi. Kalau dilihat dari cara bahasanya, ia memang amat khas Solo, cara bicaranya ‘Ngglenik’ atau akrab tanpa batas kepada lawan bicaranya, ini cara khas rakyat jelata bila sedang kongkow. Jokowi tidak mengasingkan dirinya seperti seorang bangsawan yang sakral ketika bicara dengan masyarakat yang dipimpinnya, ia masuk ke dalam alam pemikiran lawan bicaranya dengan tenggelam dalam alam bawah sadar mereka.

‘Jika berbicara dengan orang lain, gunakanlah bahasa orang itu dalam memahami alam pikir mereka’ itu kata Bung Karno saat memberikan wejangan kepada wartawan tentang bagaimana berkomunikasi yang baik “Bila kamu bicara dengan tukang becak, pahami alam pikir tukang becak, pahami bagaimana ia berbicara soal kesehariannya, cara mereka berbahasa, ukuran-ukuran intelektual mereka, bila kamu sudah masuk ke dalam gelombang yang sama dengan cara mereka bicara dari situlah kamu bisa berkomunikasi”

Prinsip Bung Karno ini digunakan Jokowi dalam memahami cara berkomunikasi dengan rakyatnya, ucapannya yang ia lontarkan jelas, padat dan tak perlu dicerna rumit-rumit.
Bila Donald Trump mengajarkan cara bernegosiasi ‘Win Win Solution’ maka ini diterapkan dengan amat sangat oleh Jokowi, metode ‘Win Win Solution + rasa kemanusiaan’. Di dalam negosiasi dengan pekerjaannya Jokowi di satu sisi bisa bersikap tegas, tapi juga bersikap amat sabar. –Sebagai misal saat ia berhadapang dengan Camat dan Lurah yang masih bandel soal KTP. Ia dengan tegas mencopot pejabat yang gagal dalam melaksanakan efektifitas pelaksanaan KTP. Tapi disisi lain ia bisa amat sabar bernegosiasi dengan pihak masyarakat. Jokowi duduk satu meja dengan para pedagang klitikan, ia tak bicara apa-apa soal pasar, ia hanya bicara sebagai teman. Berbeda saat Jokowi berhadapan dengan aparat yang bandel, ia sudah tau posisi “Siapa yang berkuasa dan apa maunya orang ini” tapi ketika berbicara dengan rakyat ia tidak bertanya “Siapa yang berkuasa” karena ia paham yang berkuasa jelas rakyat dan ia pelaksana, maka ia bertindak sebagai seorang bawahan yang sedang memahami apa maunya atasan. Ia undang makan para boss-nya itu untuk makan bersama, sampai puluhan kali, di undangan ke 54 barulah Jokowi mengutarakan maksudnya, itupun masih ada penentangan tapi tak keras, karena selama 53 pertemuan sebelumnya, Jokowi sudah menangkap bagaimana karakter masyarakat-nya dalam melihat persoalan pemindahan pasar. Disini Jokowi menerapkan komunikasi empati plus integratif, artinya : ia masuk ke dalam penghormatan dan tenggelam dari apa maunya rakyat. Seperti katanya “Rakyat adalah gudangnya gagasan. Pemimpin jangan sok pinter. Kita cuma eksekutor,”

Taktis

Satu sikap yang disukai oleh masyarakat kepada Jokowi adalah kemampuannya dalam berpikir taktis, di satu sisi ia bisa berpikir sosialis yaitu : melakukan tindakan-tindakan kolektif dimana kekayaan negara bisa diarahkan untuk kesejahteraan rakyat banyak. Di satu sisi Jokowi sangat taktis dalam berbisnis, ia amat berotak bisnis, dan otaknya untuk ini amat moncer.

Ketika Faisal Basri harus menjual rumahnya untuk biaya kampanye, maka Jokowi mengajarkan berpikir ‘Keluar Kotak’ untuk apa kita harus menjual asset, nilai lebih kita harus jadi aktiva aktif. Disini Jokowi menunjukkan dirinya bukan orang yang pandai berteori, tapi orang yang langsung aplikatif, ia beli baju yang bisa merumuskan dirinya pada posisi ingatan masyarakat, lalu baju ini dijual, ia tingkatkan partisipatif publik, ia tak perlu keluar banyak untuk kampanye karena cluster-cluster kampanye dengan sendirinya bergerak, ia ajarkan masyarakat sebagai produsen politik, bukan konsumen politik.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved