Inilah Sifat-Sifat Jokowi yang Banyak Disukai Orang Indonesia

Bisa dibilang Tahun 2012 adalah Tahun Jokowi, nanti di akhir tahun 2012 sudah dipastikan wajah Jokowi-lah yang akan mendominasi kenangan

Tayang:
Editor: tea

TRIBUNJOGJA.COM - Bisa dibilang Tahun 2012 adalah Tahun Jokowi, nanti di akhir tahun 2012 sudah dipastikan wajah Jokowi-lah yang akan mendominasi kenangan pada berita-berita kaleidoskop majalah dan Koran-koran seluruh Indonesia, dan bisa dipastikan Jokowi adalah orang yang paling banyak dibicarakan di Indonesia, selain Anas Urbaningrum dan Nazarudin, berbeda dengan Anas dan Nazar yang notorius (notorius =  nama buruk), Jokowi dibicarakan justru kebaikannya, sifat positifnya dan menumbuhkan rasa cinta di hati banyak orang Indonesia.

Tapi apa sih yang membuat jutaan orang jatuh hati pada figur Jokowi. –Saya coba memetakan karakter Jokowi yang disukai dengan pengamatan sederhana. Urutan ini berdasarkan pengamatan saya tentang Jokowi sejak 2006. Karena sejak tahun itulah saya mengamati Jokowi secara serius setelah muncul menjadi figur walikota terbaik se Indonesia pilihan TEMPO dengan gambar ia mengayuh becak. –Sejak itu saya estimasi orang ini memang akan jadi Gubernur DKI dan Presiden RI - . Sebagai tambahan saya berpendapat bila mesin demokrasi berjalan lancar, maka kelak yang akan muncul menjadi Presiden RI bukan lagi berjalur pada Ketua-Ketua Umum Partai, tapi memiliki jalur dari Walikota dan Gubernur, hal ini sama dengan alur jabatan kebanyakan Presiden Amerika Serikat.

Berikut Sifat-sifat atau karakter Jokowi yang disukai jutaan orang Indonesia.

Rendah Hati

Dari seluruh sifat Jokowi yang paling disenangi adalah sikapnya yang rendah hati, ia terlihat tidak pernah bicara sinis, ia selalu membungkuk bila bertemu orang, ia menyalami siapa saja, dan ia ‘ngajeni’ (bhs jawa = menghormati) siapapun. Banyak kawan saya di Solo berkata pada saya dan memberikan kesaksian bahwa memang karakter dia begitu, siapa saja dia sapa, dan bertanya kabarnya, ini adalah karakter orang Jawa dari sisi rakyat jelata yang guyub dan tidak memandang jabatan, ia lebih memandang jabatan sebagai ‘Kerja’ bukan status sosial, jadi ia tidak merasa lebih dari orang lain.

Jokowi tidak suka merendahkan orang lain, ia selalu memuji tapi juga tegas, tampaknya Jokowi menggunakan bahasa yang menyenangkan lawan bicaranya, ia tidak merasa dirinya harus dilayani, ia bahkan sering merasa harus melayani orang. Karakter melayani ini mungkin sudah terbentuk sejak masa ia kecil, masa ia tumbuh, ia lahir dalam kondisi miskin dan satu-satunya bertahan hidup adalah dengan melayani orang lain, ia bekerja untuk membiayai sekolahnya, ia bertanggung jawab pada dirinya dan mungkin ia tau betapa susahnya menjadi orang miskin, betapa nggak enaknya ‘dadi wong ra nduwe’ (jadi orang nggak punya) yang mungkin dihina orang, dianggap sebelah mata, maka ketika hidupnya makmur ia takut untuk menghina orang, lalu ia tidak dendam pada masa lalunya yang miskin, justru menghargai orang miskin, status manusia tidak dilihat dari hartanya, tapi apakah ia berguna bagi orang banyak, apakah kerjanya bermanfaat bagi orang banyak, ia mungkin tau rasanya disakiti oleh sikap sombong, sebab itu ia rendah hati, andap asor, ia memanusiakan manusia, senang bicara secara bersahabat. Di titik ini ia tidak pernah merasa lebih dari orang lain, kelihatan sekali dari cara bicara dan tindakannya.

Tulus

Sikap yang tulus dari seseorang adalah dilihat saja dari caranya bicara, caranya bekerja, biasanya orang yang tulus bekerja tanpa beban dan tidak direpotkan pada hal-hal yang artifisial, orang yang tulus tidak pernah berpikir macam-macam ‘kerja ya kerja’ ndak usah ada hidden agenda, trik-trik dan segala apapun yang membuat dirinya diuntungkan dan merugikan banyak orang.

Karakter dasar Tulus Jokowi ini dilihat dari cara ia bekerja untuk rakyat banyak, hal paling menonjol adalah ketika ia tidak mengambil gajinya. Disaat pejabat Negara habis-habisa menggarong dana APBN atau APBD lewat proyek-proyek tender yang di mark up, Jokowi tidak mengambil gajinya, ini mungkin kelihatan sepele, tapi coba anda ingat-ingat kembali, bukankah Presiden SBY sendiri pernah mengeluh gajinya tidak dinaikkan. Jokowi tidak pernah meributkan gaji, bahkan ia melupakannya, dari sisi ini untuk pembelajaran publik bahwa ia bekerja dengan tulus. ‘Boro-boro memperkaya diri dari mark up proyek dari gaji saja dia tidak mau ambil.

Ketulusan dia bekerja ini kemudian membawa prestasi yang luar biasa bagi Kota Solo, ia dengan cepat mengubah keadaan dan membangun landasan perubahan revolusioner menjadikan kota Solo yang tadinya dianggap kota kecil dan hanya dibawah bayang-bayang kota Semarang dan Yogya, kini sebagai kota modern tapi berkebudayaan, bahkan Solo sekarang lebih dikenal daripada Semarang dan Yogyakarta.

1342499150218950896
Sederhana dalam Tingkah dan Bicara (Sumber photo : Merdeka Online)

Sederhana Dalam Tingkah dan Bicara

Karakter yang paling disukai dari Jokowi bagi jutaan rakyat Indonesia adalah sikapnya yang ‘sederhana dalam tingkah dan bicara’. Ia tidak berlebihan, ia tidak sok Nginggris (sok ngomong Inggris separuh-separuh) seperti SBY, tidak memakai baju yang amat mahal, ia pakai pakaian sederhana, sepatunya sederhana, tidak pernah pamer kekayaan. Kita sering miris bahwa ditengah rakyat banyak yang lapar banyak pejabat tak tau malu pamer pesta pernikahan besar-besaran, bagaimana perasaan kita bila melihat ada seorang anak kelaparan, ada seorang anak memikul dagangan bakso, atau anak mencari rejeki dengan mengais-ngais sampah, sementara pemimpinnya menikahkan anaknya dengan Pancuran coklat setinggi 5 meter? Dan anak yang lapar itu melihat dari tontonan di teve hanya makan ikan asin dan tahu?, Bagaimana perasaan kepemimpinan model beginian?

Jokowi paham bahwa dengan bersikap sederhana ia mengajarkan tidak hidup dalam bui rasa gengsi, rasa gengsi-lah yang membuat hidup jadi mahal, hidup apa adanya, tak usah pamer, mobil dinasnya pun mobil Camry lama, ia tak rewel, kemudian ia pakai mobil Esemka, kalau ke Jakarta untuk keperluan dinas ia hanya naik taksi Ekspress tak pakai mobil mewah. Disini ia memang melakukan pencitraan, karena dengan kekayaannya ia bisa saja membeli mobil sedan teranyar berharga diatas 1 milyar, tapi untuk apa beli kalau kemudian di dalam mobil ia melihat bangsanya masih banyak yang lapar dan susah, dalam kesederhanan ia bersatu dalam lumpur kesengsaraan masyarakat banyak.

Tidak Pendendam

Karakter yang disukai Jokowi banyak orang adalah ‘Tidak Pendendam’. Ia tidak pernah membalas ucapan-ucapan yang merendahkan dirinya bahkan ia merasa setiap ucapan yang merendahkan adalah berkah Tuhan yang ‘harus’ ia terima saja. Mungkin publik masih banyak ingat tentang ucapan Gubernur Jawa Tengah saat ribut-ribut eks Gudang Es Sari Petodjo di Kota Solo yang mau dibangunken mall tapi Jokowi menolak, lalu Jokowi dibilang “Walikota Goblok” oleh Gubernur Semarang, Jokowi tidak membalas dengan ucapan pedas tapi dengan ucapan yang santai namun tak dimasukkan ke hati “Lha, memang saya orang Goblok” kata Jokowi sambil ketawa-ketawa. Dan Jokowi jalan terus dengan keyakinannya, ia tidak mendendam tapi sekaligus tak plin plan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved