Megawati : Ibu Jaman Sekarang Genit-genit
Ibu-ibu sekarang jadi genit-genit, nggak mau keringetan. Jengkel saya.
Penulis: esa | Editor: Iwan Al Khasni
Tribun Jogja menemui beberapa perempuan bertanya perihal Kartini. Mereka menyatakan bahwa jasa Kartini sangat besar. "Kartini menyampaikan bahwa wanita juga bisa. Sikap dan perjuangannya pada zaman dulu lantas memunculkan Kartini-Kartini baru di segala bidang di era sekarang ini," kata Ratri Handayani, seorang karyawan di perusahaan swasta nasional.
Mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Yogya, Annisa Safitri berkata, tanpa jasa Kartini, perempuan belum tentu bisa bersekolah dan mengembangkan dirinya seluas-luasnya. "Perempuan kini telah mendapatkan kesempatan belajar secara merdeka," ujar Annisa.
Sedangkan Ratri Handayani, seorang karyawan di perusahaan swasta nasional menganggap Kartini sebagai sosok wanita pelopor kesetaraan gender. Kartini menjadi spirit bagi setiap wanita bahkan sejak dulu hingga sekarang untuk mampu berjuang dan membesarkan diri dalam segala bidang. Tak kalah bersaing dengan kaum pria.
"Kartini menyampaikan bahwa wanita juga bisa. Sikap dan perjuangannya pada zaman dulu lantas memunculkan Kartini-Kartini baru di segala bidang di era sekarang ini," ujar Ratri.
Pada momen hari Kartini, ternyata tak sedikit refleksi yang bersifat kritik terhadap kaum wanita. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri misalnya. Ia berbicara cukup keras saat memperingati Hari Kartini di Jakarta, Sabtu (21/4/2012) kemarin. Mega mengaku jengkel dengan pola laku wanita yang lebih mengutamakan penampilan fisik dibanding menunjukkan kemampuan intelegensinya.
"Ibu-ibu sekarang jadi genit-genit, nggak mau keringetan. Jengkel saya. Kalau saya mau disuruh turun ke lapangan karena saya dididik oleh orang tua seperti itu," kata Mega.
Anak buah Megawati, politisi cantik dari PDIP Rieke Dyah Pitaloka berpendapat, emansipasi Kartini adalah sebuah upaya yang tiada henti tentang perjuangan melawan penindasan dan penghisapan yang melahirkan pemiskinan dan pembodohan yang dilakukan tak hanya oleh bangsa asing tapi juga oleh bangsa sendiri.
"Merayakan Hari Kartini adalah merayakan sebuah kegigihan menegakkan keadilan, perangi kemiskinan, " tegasnya.
Sebuah komentar dengan nada menggugat datang dari bintang film ternama Christine Hakim. Menurutnya isu emansipasi yang acapkali menjadi wacana suci setiap peringatan Hari Kartini rupanya tidak lagi relevan untuk zaman sekarang. Wacana tersebut seolah menunjukkan belum adanya kemajuan bagi kehidupan perempuan-perempuan di Indonesia.
"Ya, boleh-boleh saja kita memperingati Hari Kartini. Tapi jangan terjebak, saya melihat masalahnya yang dibicarakan selalu emansipasi. Kok nggak maju-maju sih," ucap Christine Hakim.
Kenyataan itulah, membuat aktris yang mengawali karirnya di dunia film tahun 1973 tersebut, gelisah. Ia menyarankan peringatan momen Hari Kartini jangan terjebak dengan isu yang sama: emansipasi wanita, kesetaraan gender atau mensejajarkan diri dengan pria.
"Negara yang punya presiden wanita seperti di Indonesia saya rasa ya tidak perlu membicarakan emansipasi dan kesetaraan gender. Tapi, lebih penting bagaimana mengoptimalkan peran perempuan dengan tidak melupakan jatidirinya," terangnya.
Perempuan, bisa menunjukkan prestasinya lewat karya di berbagai bidang, bukan di luar rumah. Tetapi juga di dalam rumah. "Itu lebih penting," serunya.
Christine menambahkan Hari Ibu jauh lebih memberikan inspirasi kepadanya. Di matanya, seorang ibu luar biasa karena memiliki tugas dan tanggung jawab yang tentu saja tak mudah dilakukan oleh pria. (TRIBUNJOGJA.COM)