Satu Abad HB IX

Kisah Kecil di Akasaka

Kota Akasaka, Jepang menjadi tempat yang sering dikunjungi Sri Sultan HB IX

Laporan Reporter Tribun Jogja,  Sigit Widya P dan Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejak 1960an, Sri Sultan HB IX kerap bepergian ke banyak negara. Kota Tokyo, Jepang seperti mendapat cukup tempat di hatinya. Ketika sedang berada di kota tersebut, Sri Sultan HB IX bisa tinggal sampai berbulan-bulan.

Tempat menginapnya di Hotel New Japan, di Akasaka, salah satu kawasan sibuk di Tokyo. Di tempat itu, Sultan HB IX senantiasa senang berjalan-jalan menikmati suasana khas Akasaka di sekitar hotelnya.

"Di kota itu, beliau sangat dikenal, baik oleh pelajar Indonesia di sana maupun warga sekitar," ungkap Sudomo Sunaryo, yang menjadi pengikut Sri Sultan HB IX mulai awal 1960.

Warga Akasaka yang mengenali Sri Sultan HB IX memanggilnya dengan sebutan The King of Java. Ia pun selalu bersikap ramah kepada siapa saja. Bahkan, Sultan HB IX tak sungkan menganggukkan kepala setiap kali ada orang menyapanya.

"Saya tak bosan-bosan mengatakan Sultan HB IX adalah manusia sederhana. Meski Akasaka kawasan yang cukup mewah, sikap beliau tetap biasa, termasuk dalam berpakaian," lanjutnya.

Kisah kecil di Jepang juga diungkapkan Pelaksana Tugas Sekda Gunungkidul, Budi Martono. Ia mengungkapkan rasa kagumnya terhadap kharisma HB IX. Setiap orang di dekatnya pasti akan segan.

Budi lantas mengungkapkan momen-momen terakhir ketika ia ikut rombongan HB IX ke Kyoto, dua minggu sebelum Ngarso Dalem mangkat. Pada saat itu di penghujung September 1988 Budi Martono bersama rombongan HB IX menuju ke Kyoto untuk menandatangani MoU Sister City.

Sister City menurut penjelasan Budi yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Balai Benih Induk Hortikultura, Dinas Pertanian Provinsi Yogyakarta merupakan kerjasama antara Kyoto dan Yogyakarta.

"Di sana ada penanaman pohon beringin putih yang dibawa dari Yogyakarta untuk ditanam di Botanical Garden, Kyoto. Sultan sendiri yang menanam secara simbolis sebagai prasasti," kata Budi Martono.

Kerjasama tersebut terjalin karena ada banyak kesamaan di antara kedua kota itu. Baik di sektor pertanian, pariwisata, seni dan budaya. "Kemiripan antara Kyoto dan Yogyakarta itu melahirkan MoU Sister City," jelas pejabat berdarah Sumenep, Madura ini.

Tak terasa itulah saat terakhir ia bertatap muka dengan Sultan HB IX. Setelah acara di Kyoto, rombongan berpisah. Sri Sultan HB IX terbang ke Washington DC untuk berobat. Sedangkan rombongan dari Yogya pulang ke tanah air.

"Tak terasa, itulah momen-momen kami bersama dengan Sultan yang jika diam penuh arti," jelasnya. Dua pekan kemudian, tersiar kabar sang Sultan mangkat di sebuah rumah sakit di Washington DC. (www.tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved