Ritual di Bukit Batu Kalteng
Bukit Batu merupakan salah satu objek dan daya tarik wisata di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, yang dinilai unik.
Editor:
Sulistiono
TRIBUNJOGJA.COM-Bukit Batu merupakan salah satu objek dan daya tarik wisata di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dinilai unik karena banyak warga datang menggelar ritual.
Kawasan wisata yang diresmikan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) saat dijabat Warsito Rasman ramai di kunjungi masyarakat untuk mengadakan acara ritual bagi yang punya niat terhadap sesuatu, kata seorang warga setempat Kariyanah (46) di Kasongan, Minggu (11/12/2011).
Objek wisata Bukit Batu, katanya, selain sebagai tempat wisata juga menjadi wadah ritual bagi masyarakat yang datang ke lokasi itu. Warga memiliki niat tertentu datang ke Bukit Batu, ujarnya.
"Apabila niatnya terkabul, mereka akan kembali membawa sesajen," kata Kariyanah sambil menambahkan, Bukit Batu dibuka sebagai lokasi wisata sekitar tahun 1997.
Orang yang melakukan ritual di Bukit batu bukan hanya dari agama tertentu saja, melainkan berasal dari hampir semua agama juga ikut melakukan ritual di Bukit Batu.
Beberapa saat lalu ada seorang warga yang datang kembali untuk membayar nazar, karena orang tuanya sembuh dari sakit yang di deritanya.
Keunikannya terlihat dari batu besar yang tersusun rapi secara alami sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke lokasi tersebut. Bukit Batu ini merupakan tempat pertapaan Tjilik Riwut.
Jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke objek wisata Bukit Batu dengan luas lahan sekitar 6,5 hektare tersebut. Lokasi ini kini di kelola Dinas kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng.
Wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut bukan hanya warga katingan atau kabupaten lainnya di Kalteng, tapi juga wisatawan dari berbagai Negara karena tanpa dipungut biaya alias gratis.
"Tidak dipungut biaya dari pengunjung. Mereka memberi secara sukarela. Wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Bukit Batu untuk melihat keunikannya," kata Kariyanah.
Bukit Batu biasa dikunjungi oleh masyarakat pada saat hari liburan. Apabila hari libur hari-hari tertentu seperti Idul Fitri dan hari besar lainnya pengunjung yang datang hampir ribuan. Biasanya pengunjung hanya ditarik biaya parkir Rp1.000.
Apabila dilihat dari kejauhan tampak sekali bukit batu yang menjulang tinggi sehingga terlihat seperti gunung batu. Halamannya pun luas dengan dilapisi rumput hijau yang segar sehingga terlihat sejuk.
Setiap pengunjung yang datang tidak jarang yang melepaskan penat selama perjalanan sambil merebahkan tubuhnya di atas rumput yang hijau tersebut.
Bahkan banyak juga sering anak-anak yang tinggal disekitar Bukit batu yang juga memanfaatkan halaman Bukit Batu sebagai tempat bermain sepak bola bersama teman-temannya.
Selain itu, di Bukit Batu juga di lengkapi denga warung-warung kecil yang berada dekat dengan kolam pemandian tempat para bidadari mandi, sehingga para pengunjung yang datang bias beristirahat sambil minum dan makan.
Suasana di Bukit Batu sangat sejuk dan dingin apabila berada di atas, sangat terasa sekali hembusan angin yang alami sehingga seketika dapat menghilangkan lelah saat di perjalanan menuju Bukit Batu.
Bukit Batu awalnya ditemukan Burut Ules, warga asli Kasongan, tambah Kariyanah yang bekerja sebagai pemandu wisata saat ditemui ANTARA di lokasi Bukit Batu tersebut.
Sejarah terjadinya Bukit Batu konon saat Burut Ules sedang menanam padi, ia mendengar ada orang mandi di sebuah sumur. Kemudian Burut Ules menghampiri suara tersebut, ternyata dilihatnya ada tujuh bidadari sedang mandi.
Setelah itu ia menyesali karna tidak mengambil selendang dari salah satu bidadari tersebut. Pada hari berikutnya ia penasaran sekali ingin mengambil selendang tersebut.
Keesokan harinya pada saat hari mulai mendung kemudian ada terlihat pelangi di langit, kemudian terdengar lagi suara orang yang sedang mandi, ternyata bidadari yang sedang mandi, kemudian diambillah selendang tersebut.
Selendang yang di ambil Burut Ules ternyata milik salah satu bidadari yang paling bungsu, dan akhirnya Burut Ules menikah dengan Bidadari tersebut dan hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki.
Pasa saat itu datang seorang laki-laki yang mengaku sebagai saudara dari istri Burut Ules. Awalnya Burut Ules biasa saja, namun lama kelamaan ia merasa cemburu karena istrinya sering mandi bersama dengan laki-laki yang mengaku saudaranya.
Akhirnya Burut Ules sudah tidak tahan lagi menahan kelakuan istrinya yang sering mandi bersama saudaranya, dan Burut Ules pun membunuh laki-laki tersebut.
Anehnya saat ditusuk tidak ada sama sekali bekas darah dan lain sebagainya, jasadnya pun juga langsung hilang. Beberapa saat kemudian istrinya menanyakan saudaranya kepada suaminya.
Burut Ules tidak mau mengatakan dimana saudara istrinya berada, istrinya pun menaruh curiga terhadap suaminya kalau saudaranya telah dibunuh. Dan akhirnya istrinya mengancam Burut Ules.
Ia mengancam apabila terbukti suaminya yang telah membunuh saudaranya maka ia akan kembali ke kayangan dengan membawa anaknya yang masih bayi, tapi ketika anaknya sudah besar maka akan di kembalikan ke bumi.
Ciri-ciri apabila anaknya sudah kembali ke bumi maka akan turun halilintar atau petir, dan akhirnya jadilah batu yang tersusun rapi dan unik, dan di sebut dengan yang namanya Bukit Batu.
Dan akhirnya Bukit Batu ini di jaga oleh anak dari Burut Ules, dan Bukit Batu juga merupakan tempat pertapaannya Tjilik Riwut. Karena dulu setiap wanita yang hamil anak laki-laki pasti meninggal dunia, oleh karena itu Tjilik Riwut bertapa di Bukit Batu.
Dari sejarah Bukit Batu tersebut banyak menarik perhatian bagi setiap pengunjung yang datang, baik dari kota Palangka Raya, Kasongan, maupun pendatang dari berbagai daerah luar kota Palangka Raya. (*)
Kawasan wisata yang diresmikan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) saat dijabat Warsito Rasman ramai di kunjungi masyarakat untuk mengadakan acara ritual bagi yang punya niat terhadap sesuatu, kata seorang warga setempat Kariyanah (46) di Kasongan, Minggu (11/12/2011).
Objek wisata Bukit Batu, katanya, selain sebagai tempat wisata juga menjadi wadah ritual bagi masyarakat yang datang ke lokasi itu. Warga memiliki niat tertentu datang ke Bukit Batu, ujarnya.
"Apabila niatnya terkabul, mereka akan kembali membawa sesajen," kata Kariyanah sambil menambahkan, Bukit Batu dibuka sebagai lokasi wisata sekitar tahun 1997.
Orang yang melakukan ritual di Bukit batu bukan hanya dari agama tertentu saja, melainkan berasal dari hampir semua agama juga ikut melakukan ritual di Bukit Batu.
Beberapa saat lalu ada seorang warga yang datang kembali untuk membayar nazar, karena orang tuanya sembuh dari sakit yang di deritanya.
Keunikannya terlihat dari batu besar yang tersusun rapi secara alami sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke lokasi tersebut. Bukit Batu ini merupakan tempat pertapaan Tjilik Riwut.
Jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke objek wisata Bukit Batu dengan luas lahan sekitar 6,5 hektare tersebut. Lokasi ini kini di kelola Dinas kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng.
Wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut bukan hanya warga katingan atau kabupaten lainnya di Kalteng, tapi juga wisatawan dari berbagai Negara karena tanpa dipungut biaya alias gratis.
"Tidak dipungut biaya dari pengunjung. Mereka memberi secara sukarela. Wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke Bukit Batu untuk melihat keunikannya," kata Kariyanah.
Bukit Batu biasa dikunjungi oleh masyarakat pada saat hari liburan. Apabila hari libur hari-hari tertentu seperti Idul Fitri dan hari besar lainnya pengunjung yang datang hampir ribuan. Biasanya pengunjung hanya ditarik biaya parkir Rp1.000.
Apabila dilihat dari kejauhan tampak sekali bukit batu yang menjulang tinggi sehingga terlihat seperti gunung batu. Halamannya pun luas dengan dilapisi rumput hijau yang segar sehingga terlihat sejuk.
Setiap pengunjung yang datang tidak jarang yang melepaskan penat selama perjalanan sambil merebahkan tubuhnya di atas rumput yang hijau tersebut.
Bahkan banyak juga sering anak-anak yang tinggal disekitar Bukit batu yang juga memanfaatkan halaman Bukit Batu sebagai tempat bermain sepak bola bersama teman-temannya.
Selain itu, di Bukit Batu juga di lengkapi denga warung-warung kecil yang berada dekat dengan kolam pemandian tempat para bidadari mandi, sehingga para pengunjung yang datang bias beristirahat sambil minum dan makan.
Suasana di Bukit Batu sangat sejuk dan dingin apabila berada di atas, sangat terasa sekali hembusan angin yang alami sehingga seketika dapat menghilangkan lelah saat di perjalanan menuju Bukit Batu.
Bukit Batu awalnya ditemukan Burut Ules, warga asli Kasongan, tambah Kariyanah yang bekerja sebagai pemandu wisata saat ditemui ANTARA di lokasi Bukit Batu tersebut.
Sejarah terjadinya Bukit Batu konon saat Burut Ules sedang menanam padi, ia mendengar ada orang mandi di sebuah sumur. Kemudian Burut Ules menghampiri suara tersebut, ternyata dilihatnya ada tujuh bidadari sedang mandi.
Setelah itu ia menyesali karna tidak mengambil selendang dari salah satu bidadari tersebut. Pada hari berikutnya ia penasaran sekali ingin mengambil selendang tersebut.
Keesokan harinya pada saat hari mulai mendung kemudian ada terlihat pelangi di langit, kemudian terdengar lagi suara orang yang sedang mandi, ternyata bidadari yang sedang mandi, kemudian diambillah selendang tersebut.
Selendang yang di ambil Burut Ules ternyata milik salah satu bidadari yang paling bungsu, dan akhirnya Burut Ules menikah dengan Bidadari tersebut dan hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki.
Pasa saat itu datang seorang laki-laki yang mengaku sebagai saudara dari istri Burut Ules. Awalnya Burut Ules biasa saja, namun lama kelamaan ia merasa cemburu karena istrinya sering mandi bersama dengan laki-laki yang mengaku saudaranya.
Akhirnya Burut Ules sudah tidak tahan lagi menahan kelakuan istrinya yang sering mandi bersama saudaranya, dan Burut Ules pun membunuh laki-laki tersebut.
Anehnya saat ditusuk tidak ada sama sekali bekas darah dan lain sebagainya, jasadnya pun juga langsung hilang. Beberapa saat kemudian istrinya menanyakan saudaranya kepada suaminya.
Burut Ules tidak mau mengatakan dimana saudara istrinya berada, istrinya pun menaruh curiga terhadap suaminya kalau saudaranya telah dibunuh. Dan akhirnya istrinya mengancam Burut Ules.
Ia mengancam apabila terbukti suaminya yang telah membunuh saudaranya maka ia akan kembali ke kayangan dengan membawa anaknya yang masih bayi, tapi ketika anaknya sudah besar maka akan di kembalikan ke bumi.
Ciri-ciri apabila anaknya sudah kembali ke bumi maka akan turun halilintar atau petir, dan akhirnya jadilah batu yang tersusun rapi dan unik, dan di sebut dengan yang namanya Bukit Batu.
Dan akhirnya Bukit Batu ini di jaga oleh anak dari Burut Ules, dan Bukit Batu juga merupakan tempat pertapaannya Tjilik Riwut. Karena dulu setiap wanita yang hamil anak laki-laki pasti meninggal dunia, oleh karena itu Tjilik Riwut bertapa di Bukit Batu.
Dari sejarah Bukit Batu tersebut banyak menarik perhatian bagi setiap pengunjung yang datang, baik dari kota Palangka Raya, Kasongan, maupun pendatang dari berbagai daerah luar kota Palangka Raya. (*)