Pengungsi Merapi Yogyakarta
Pengungsi Merapi Jadi Guide Lava Tour
Saya menjadi tukang ojek sekaligus pemandu wisata untuk pengunjung yang mau berkeliling ke kawasan bencana Merapi.
Laporan: Hasan Sakri Ghozali, Rahadian Bagus Priambodo
PONIDI (50) tampak duduk-duduk di atas motornya, menunggu antrean mengantar pengunjung kawasan bencana Merapi. Ia bersama teman-temannya sedang menjual jasa ojek, sekaligus pemandu wisata lava tour di bekas Dusun Kinahrejo, tempat juru kunci Merapi, Mbah Marijan menghabiskan masa hidupnya.
"Kami ini korban Merapi yang sudah tidak punya mata pencaharian lagi," kata warga desa Sidorejo, Umbulharjo, Cangkringan itu, Sabtu (18/12/2010).
Sebelum erupsi Merapi, pekerjaan pria itu adalalah peternak sapi. Ia tidak bisa bekerja lagi lantaran dua ekor sapinya mati diterjang awan panas alias wedhus gembel. “Saya masih mengungsi di Stadion Maguwoharjo,” jelasnya.
Ponidi menerima bayaran Rp 20.000 setiap kali mengantar pengunjung. Pendapatannya itu dipotong Rp 5.000 untuk dana kas desa. Jadi, ia hanya memeroleh Rp 15.000 setiap kali mengantar pengunjung.“Saya menjadi tukang ojek dan pemandu wisata di kawasan bencana Merapi sejak tanggal 8 Desember lalu. Penghasilannya tergantung cuaca. Kalau tidak hujan bisa mendapat enam pengunjung per hari,” katanya.
Profesi menjadi guide dadakan juga dijalani Gunanto (35). Pengungsi asal Dusun Ngancar, Desa Glagahharjo, Kecamatan Cangkringan tersebut optimis kesibukannya sebagai guide bisa untuk bertahan hidup. “Sementara ini istri bekerja sebagai buruh cuci dan setrika, sedangkan saya sendiri menjadi tukang ojek sekaligus pemandu wisata untuk pengunjung yang mau berkeliling ke kawasan bencana Merapi,” ujarnya.
Bapak satu anak ini lebih beruntung dibanding Ponidi. Ia sudah menempati shelter di kawasan Pakem. Meskipun sudah mendapat rumah hunian sementara, ia masih kepikiran masalah ekonomi keluarganya. Saat ini masalah kebutuhan sehari-harinya masih tergantung pasokan logistic di lokasi pengungsian.
Ia sempat ditawari ikut program transmigrasi oleh pemerintah setempat ke Kalimantan. Sejumlah tetangganya, mengikuti program tersebut dengan harapan bisa hidup lebih baik. ”Saya tidak ikut transmigrasi karena ingin mengurus rumah dan tanah yang masih tersisa. Saat ini sudah ada perintah untuk mencatat batas-batas tanah rumah saya, tidak tahu itu untuk apa,” ujarnya.