Bantul

Baru Miliki 28 Unit, BPBD Bantul Sebut Jumlah Alat Peringatan Dini Tsunami Belum Ideal

Baru Miliki 28 Unit, BPBD Bantul Sebut Jumlah Alat Peringatan Dini Tsunami Belum Ideal

Baru Miliki 28 Unit, BPBD Bantul Sebut Jumlah Alat Peringatan Dini Tsunami Belum Ideal
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Manager pusat pengendalian operasional (Pusdalops) BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmansyah. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Jumlah alat peringatan dini tsunami atau early warning system (EWS) di Kabupaten Bantul masih belum ideal.

Padahal sebagian wilayah Bantul merupakan daerah pesisir pantai yang rawan terjadi bencana gempa dan gelombang tinggi.

Manager pusat pengendalian operasional (Pusdalops) BPBD Bantul Aka Luk Luk Firmansyah mengatakan alat pendeteksi dini yang ada di pesisir pantai selatan di Bantul jumlahnya 28 unit.

Alat itu dipasang memanjang dari Pantai Parangtritis hingga pantai Pandansimo. Namun, kata dia jumlah tersebut dirasa masih kurang optimal.

"Meskipun kalau dilihat sudah cukup banyak. [Tetapi] melihat wilayah Bantul masih kurang. Idealnya itu 40 alat," kata Aka, ditemui ketika rapat skenario tsunami drill di gedung Induk Parasamya, Selasa (16/4/2019).

Baca: Peringati Hari Kesiapsiagaan Nasional, BPBD Bantul Bakal Gelar Simulasi Tsunami di Pesisir Selatan

Menurut dia ke-28 alat peringatan dini tsunami yang dimiliki saat ini hanya cukup untuk mengcover wilayah pesisir pantai sepanjang 13 kilometer.

Idealnya, kata Aka alat peringatan seharusnya dipasang juga di Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan Tempat Evakuasi Akhir (TEA).

Sehingga warga yang sedang mengungsi karena peringatan bahaya mengetahui perkembangan situasi. Apakah sudah aman atau belum. Selain itu, menurutnya alat peringatan tsunami idealnya dilengkapi juga diseputar wilayah tetangga.

"Misalkan saja, ketika warga di pesisir selatan berlarian dan warning sampai ke utara maka warga di utara tahu ada apa. Dan warga bisa segera membantu penanganan," terang dia.

Lebih lanjut, Aka menjelaskan alat peringatan dini tsunami yang ada di Kabupaten Bantul saat ini sebagian di antaranya sudah terkoneksi dengan masjid.

Baca: Pabrik Garudafood Terbakar, Karyawan Berhamburan Keluar Menyelamatkan Diri

Artinya ketika ada potensi gelombang tinggi maka ke-28 alat secara bersamaan akan berbunyi dari tiang hingga pengeras suara masjid yang ada di pesisir pantai.

Adapun sistem kerjanya, rantai peringatan dini dimulai dari adanya informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait bencana. Informasi itu kemudian diolah oleh Pusdalops BPBD Bantul. Apakah itu bahaya atau tidak.

"Ketika bahaya tsunami maka Pusdalops segera melakukan aktivasi alat peringatan dini. Sirine tanda bahaya akan berbunyi secara bersamaan," terangnya.

"Satu sirine bisa menjangkau 1 sampai 2 kilometer," imbuh dia.

Ketika sirine sebagai tanda peringatan bahaya berbunyi maka warga diminta segera melakukan evakuasi mandiri. Menjauhi area pesisir pantai dan sungai. Masuk di shelter sebagai tempat pengungsian sementara. (tribunjogja)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved