Yogyakarta

75 Manuskrip Kuno Keraton Yogyakarta Mulai Didigitalisasi

Sedikitnya 75 manuskrip kuno yang dimiliki oleh keraton Yogyakarta akan didigitalisasi.

75 Manuskrip Kuno Keraton Yogyakarta Mulai Didigitalisasi
IST
Kasie Pelestarian Koleksi Pustaka dan naskah Kuno Perpustakaan Kota Yogya mengamati proses konservasi naskah kuno di Perpustakaan Banjar Wilopo Kraton Ngayogyakarta, Kamis (12/7/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM -  Sedikitnya 75 manuskrip kuno yang dimiliki oleh keraton Yogyakarta akan didigitalisasi. Hal tersebut merupakah salah satu langkah yang ditempuh oleh pihak keraton untuk mengembalikan naskah-naskah kuno tersebut ke Indonesia.

“75 naskah kuno yang didigitalisasi dan kami kembalikan ke Indonesia ini adalah langkah awal,” ujar GKR Hayu, ketua panitia simposium internasional "Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta" dalam rangkaian Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X di Bale Raos, Jumat (8/2/2019).

Putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X ini menjelaskan, dimungkinkan ada ratusan naskah kuno yang hilang dan tersebar di Inggris, Belanda, serta belahan dunia lainnya. Dia pun menyebutkan masih ada tiga naskah kuno yang tersisa dan tersimpan di museum atau Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dia juga menyebut manuskrip tentang "Teaching of Hamengku Buwono (HB) I" yang berisi tentang cara memimpin dan pelajaran-pelajaran yang diajarkan raja pertama Kraton Mataram tersebut. Naskah kuno tersebut selama ini hilang dan baru ditemukan di British Library di Inggris.

Baca: Bupati Kulon Progo Targetkan Tali Asih PAG Cair Pekan Kedua Februari

Baca: Lakukan Safari Jumat, Bupati Bantul Tinjau Langsung Pembangunan di Tingkat Desa

Selain itu naskah kuno yang berisi tentang ajaran leluhur sejak peristiwa Geger Sepehi tahun 1812. Naskah-naskah tersebut selama lebih dari 207 tahun berada di Inggris. Hilangya naskah kuno tersebut, ujar GKR Hayu membuat masyarakat kehilangan nilai luhur.

“Maka, sayang bila generasi muda sekarang tidak tahu kehilangan apa. Momentum digitalisasi ini dianggap penting untuk diperingati dengan kegiatan akademik agar pengetahuan Jawa yang telah lama hilang bangkit kembali," urainya.

Dia menyebut, simposium yang digelar selama dua hari pada 5-6 Maret 2019 mendatang, diharapkan Hayu dapat menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai budaya Jawa yang terkandung dalam naskah-naskah lama tersebut. Selain simposium, naskah-naskah kuno juga akan dipamerkan pada 7 Maret hingga 7 April 2019 di Keraton Yogyakarta.

“Keraton pertama kalinya memamerkan dan berani mengeluarkan 30 manuskrip. Ini bekerjasama dengan British Library.  Ngarsa Dalem juga memulai sedikit-sedikit digitalisasi manuskrip Keraton Yogya,” urainya.

Naskah-naskah yang dipamerkan diantaranya adalah babad, serat, catethan warna-warni dari perpustakaan keraton, KHP Widyabudaya. Sementara teks-teks bedhaya, srimpi, dan pethilan beksan, serta catethan gendhing berasal dari koleksi KHP Kridhamardawa.

Ketua panitia Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, GKR Bendara menjelaskan, pihaknya pun meminta dukungan dari masyarakat dan dinas terkait untuk  menyelamatkan naskah-naskah kuno tersebut. Hal ini sebagai salah satu langkah untuk pelestarian warisan budaya dan sejarah yang dimiliki keraton Yogyakarta.

“Digitalisasi naskah kuno ini sebagai titik awal mengembalikan manuskrip dari berbagai belahan dunia. Keraton mencoba mengumpulkan jejak sejarah yang selama ini hilang,” urainya. (tribunjogja)

Penulis: ais
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved