Gunungkidul

Sesepuh PSS Sleman : Match Fixing Tak Pengaruhi Mental Atlet Usia Muda

Sesepuh PSS Sleman Subardi mengatakan match fixing merupakan perilaku yang dilakukan tanpa adanya batasan atau pelarangan

Sesepuh PSS Sleman : Match Fixing Tak Pengaruhi Mental Atlet Usia Muda
TRIBUNJOGJA.COM / Wisang Seto Pangaribowo
Seto Nurdiantoro saat memberikan coaching clinic kepada atlet-atlet seoakbola usia dini di lapangan Siraman, Wonosari, Rabu (2/1/2019). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wisang Seto Pangaribowo

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL -Match fixing atau pengaturan skor pada olahraga sepakbola beberapa bulan terakhir menjadi perbincangan masyarakat Indonesia khususnya pecinta sepakbola.

Namun hal tersebut tak akan mempengaruhi mental atlet sepakbola pada usia dini.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Sesepuh PSS Sleman Subardi, atau sering disapa mbah Bardi, saat ditemui Tribunjogja.com di sela-sela coaching clinic bersama Seto Nurdiantoro, di Lapangan Siraman, Wonosari, Rabu (2/1/2019).

"Saya kira match fixing tak akan mempengaruhi mental pemain usia dini, karena match fixing merupakan perilaku yang dilakukan tanpa adanya batasan atau pelarangan apalagi hal tersebut dilakukan oleh orang dalam atau yang mengatur regulasi," katanya.

Baca: Rasakan Iga Sapi Jumbo Bumbu Khas Bali di The Captain Resto

Menurutnya sepakbola bukan hanya sekedar olahraga saja tetapi dalam sepakbola mempunyai filosofi yang kuat dalam membangun karakter anak-anak seperti dalam sepakbola diajarkan untuk sportif, jujur.

"Yang artinya sepakbola sudah terkontaminasi jika hal tersebut hilang dari sepakbola maka yang ada pragmatisme, materialisme, makanya kita perlu untuk mendidik pemain-pemain usia muda ini," ucapnya.

Menurutnya jika pemain-pemain usia dini dapat dilatih dengan baik dan tidak terkontaminasi oleh pengurus-pengurus yang melakukan kecurangan maka output pemain juga akan baik.

"Apa yang harus kita perbuat? Ya, habisin saja semua bersihin semuanya, selesai urusannya," tegasnya.

Ia mengatakan potensi-potensi atlet sepakbola di Gunungkidul sangat besar mengingat jumlah penduduk di Gunungkidul tergolong besar, dengan jumlah penduduk yang banyak maka banyak juga anak-anaknya sehingga dibutuhkan kompetisi.

Baca: Satgas Antimafia Bola Terima Ratusan Aduan dari Masyarakat Terkait Dugaan Pengaturan Skor

"Agar mereka anak-anak senang sepakbola orangtua harus mau menyediakan fasilitasnya, tak hanya orangtua pengcab Gunungkidul menyiapkan pelatih yang berlisensi," katanya.

Sementara itu pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiantoro mengatakan untuk mendapatkan atlet sepakbola yang berkualitas dibutuhkan kompetisi-kompetisi pada usia muda, atlet usia dini jangan hanya berlatih saja tetapi dibutuhkan kompetisi.

"Jangan hanya berlatih saja, tetapi kalau bisa dua atau tiga hari latihan lalu pada akhir pekan dilakukan pertandingan, anak-anak kelihatan progresnya saat ada kompetisi kalau hanya berlatih saja mereka akan jenuh," ucapnya.

Ia berharap agar kompetisi dilakukan secara berjenjang jadi dengan kompetisi yang berjenjang dapat memberikan kesempatan anak-anak untuk bermain sepakbola dengan atmosfer kompetisi.

"Saya berpesan kepada atlet-atlet sepakbola muda Gunungkidul agar memiliki idola, itu sangat penting karena dapat mempengaruhi semangat berlatih dan juga semangat saat bertanding," pungkasnya.(*)

Penulis: Wisang Seto Pangaribowo
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved