Pendidikan
3 Mahasiswa UMY Ciptakan Alat Ukur Radiasi yang Praktis dan Cepat
Dosca 'Dosimeter Co-Card Alarm' adalah alat yang diciptakan dan berhasil mendapatkan dana dari RISTEKDIKTI.
TRIBUNJOGJA.COM - Sebanyak tiga orang mahasiswa D3 Teknik Elektromedik Program Vokasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menciptakan inovasi alat di bidang kesehatan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC).
Dosca 'Dosimeter Co-Card Alarm' adalah alat yang mereka ciptakan dan maju ke tingkat nasional hingga berhasil mendapatkan dana dari KementErian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi Republik Indonesia (RISTEKDIKTI) pada tahun 2018.
Banyak para pekerja di bidang kesehatan yang sering terpapar sinar radiasi ketika mereka melakukan tugasnya di ruangan radiologi.
Baca: Peduli Korban Gempa Lombok, Tim KKN UMY Cepat Tanggap
Hal ini dikarena banyak pekerja yang tidak menyadari bahwa diri mereka sudah terpapar gelombang radiasi dengan cukup lama disebabkan oleh alat ukur pancaran radiasi yang dipakai masih manual dan tidak bisa memberikan data dengan cepat.
Hal ini yang melatarbelakangi Sabda Amukti Fasai bersama dengan kedua rekannya yang bernama Subhan Bariton dan Nadhatur Rughaisyiah menciptakan inovasi alat pengukur pancaran radiasi.
“Kelompok kami menghabiskan waktu selama 3 bulan untuk menyelesaikan Dosca “Dosimeter Co-Card Alarm” yang menjadi terobosan baru alat pencatat gelombang radiasi,” ujarnya melalui siaran resmi yang diterima Tribunjogja.com.
Sabda menjelaskan bahwa alat yang mereka ciptakan merupakan kombinasi dari dua alat yang bernama Surveymeter dan Dosimeter.
“Dosca bekerja dengan sangat efektif, tidak seperti alat yang sudah ada. Dengan ukurannya yang sebesar buku saku dan mampu memberikan ukuran radiasi dengan tampilan digital yang dapat dilihat saat itu juga. Tidak seperti Dosometer yang harus menunggu data dari Balai Pengawas Fasilitas Kesehatan selama 1 bulan lamanya,” ujarnya.
Baca: UMY Kembali Melepas 27 Mahasiswa KKN Internasional ke Davao Filipina Selatan
Kemudian, apabila karya mereka sudah bisa dipasarkan secara umum di Tanah Air dipastikan harganya akan jauh lebih murah dibandingkan dengan alat – alat yang sudah ada seperti Surveymeter dan Dosimeter yang dibandrol dengan harga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.
Hal tersebut dikarenakan kedua alat tersebut harus diimpor dari luar negeri.
Pada akhir wawancara, mahasiswa semester 4 itu berharap agar pemerintah bisa mendukung penuh semua karya terbaik anak bangsa.
“Tim kami mengharapkan perhatian pemerintah untuk mendukung kerja keras selama ini dengan mempermudah mendapatkan hak paten,” tutupnya. (*)