Nekat Memarkir Motor di Jalur Lambat Malioboro, Siap-siap Bakal Digembosi Ban oleh Petugas
Langkah tegas itu diambil dengan menggembosi ban sepeda motor yang parkir tak sesuai aturan.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sepeda motor yang parkir di jalur lambat kawasan Malioboro akan mendapat tindakan tegas dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro.
Langkah tegas itu diambil dengan menggembosi ban sepeda motor yang parkir tak sesuai aturan.
Koordinator Keamanan dan Ketertiban UPT Malioboro, Ahmad Syamsudi menjelaskan, ada 50 sepeda motor yang dalam seharinya diparkir di jalur lambat. Dari jumlah tersebut sebagian besar merupakan milik pedagang kaki lima (PKL).
“Kami melakukan tindakan tegas sesuai prosedur agar mereka parkir di tempat yang disediakan dan tidak mengganggu pengunjung,” jelasnya, kemarin.
Sebelum digembosi bannya, pihaknya memperingatkan pemilik untuk memindahkan lokasi parkir ke Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA). Petugas juga akan mengambil helm atau spion sepeda motor jika tidak diketahui pemilik motor yang terparkir tersebut.
“Kami akan meminta mereka mengambil di UPT dan membuat surat pernyataan bermaterai untuk tidak mengulangi perbuatanya. Baru kalau masih ngeyel dan mengulangi lagi, kami gembosi bannya,” tegasnya.
Dia menjelaskan, jumlah 50 kendaraan itu merupakan akumulasi jumlah pelanggar parkir dari pagi hingga malam di kawasan Malioboro. Pihaknya pun terus menyosialisasikan agar PKL taat aturan dengan memarkirkan kendaraannya di TKP ABA.
“Alasannya macam-macam, utamanya karena parkiran jauh,” jelasnya.
Wakil Wali Kota Yogya, Heroe Poerwadi mendukung langkah UPT Malioboro untuk menindak tegas setiap pelanggaran yang terjadi di kawasan Malioboro. Dia juga menjelaskan, para petugas diminta untuk tidak ragu dan takut demi kebaikan dan kenyamanan bersama.
“Tindakan tegas pada setiap pelanggaran itu merupakan langkah yang bagus,” ujarnya.
Heroe juga mengingatkan pentingnya PKL untuk selalu tertib dan taat aturan. Termasuk memberi contoh pada wisatawan yang datang untuk memarkirkan kendaraanya di lokasi yang ditentukan. Menurut Heroe, jika Malioboro aman, nyaman dan bersih akan menguntungkan para PKL.
“Maka sudah menjadi tugas dari PKL untuk bisa menjaga susasa nyaman dan tertib itu,” ujar Heroe.
Sementara itu, operasi Jogobaran atau kegiatan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan yang datang ke Yogyakarta selama libur Lebaran dimungkinkan diperpanjang jika jumlah wisatawan yang berkunjung masih banyak. Operasi Jogobaran yang dilakukan secara terpadu oleh sejumlah instansi di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta seharusnya berakhir pada Selasa (4/7).
Wali Kota Yogya, Haryadi Suyuti menjelaskan, masih banyaknya jumlah wisatawan yang tiba di Yogyakarta hingga cuti bersama berakhir menjadi bahan evaluasi. Apalagi, banyak wisatawan yang datang ke Yogyakarta karena libur sekolah masih lama.
“Penumpang yang turun di Stasiun Tugu juga masih cukup banyak. Ini yang perlu menjadi salah satu bahan evaluasi nanti," ujarnya.
Sejauh ini, kata dia, pelaksanaan Operasi Jogobaran selama libur Lebaran berjalan dengan baik dan aman, meskipun masih ada beberapa temuan kasus namun bisa diselesaikan. Haryadi pun mengatakan, persoalan seperti PKL nuthuk harga pun sudah diselesaikan dan adanya penutupan salah satu PKL ini bisa menimbulkan efek jera. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/malioboro_gjh_20160704_121728.jpg)