Liputan Khusus

Stasiun Medari Pernah Dibumihanguskan

KA jalur Yogyakarta-Magelang awalnya ditarik dengan lokomotif uap

Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: Rina Eviana Dewi

Penelusuran Tribun di sepanjang eks jalur kereta api Yogya-Magelang pekan lalu menemukan ada ribuan meter persegi lahan PT KAI berpotensi lenyap karena berubah fungsi jadi hunian komersil. Ada yang legal di bawah sewa kontrak, tapi banyak yang ilegal. Beragam kisah masa lalu ketika moda transport darat itu masih jaya juga terangkai. Di wilayah Medari, terungkap kisah stasiun kecil di wilayah itu pernah dibumihanguskan pejuang republik. Inilah kisahnya:

SESEORANG yang sudah cukup tua itu tinggal di belakang bangunan eks Stasiun Medari. Sukarjo namanya. Dia pensiunan masinis KA, dan masih bisa mengingat cerita masa lalu tentang jalur kereta di depan rumahnya itu.

"Stasiun ini (Medari) peninggalan Belanda. Saat masa perjuangan pascakemerdekaan pernah dibakar. Lalu dibangun kembali di lokasi yang sama," kisah pria berusia 61 tahun ini. Menurut Sukarjo, sekitar 70 persen dari bangunan ini masih asli.

Meski sudah samar, tulisan Stasiun Medari masih menempel di gunungan bangunan sebelah kanan maupun kiri. Besi dudukan alat sinyal telegraf pun masih bisa dilihat di ujung atas sebelah kanan bangunan ini.

Masih menurut Sukarjo, KA jalur Yogyakarta-Magelang awalnya ditarik dengan lokomotif uap. Berisi gerbong penumpang dan barang, KA ini memiliki kecepatan rerata 30-40 km per jam. Dengan demikian, membutuhkan waktu tempuh sekitar 1,5 jam untuk mencapai Magelang.

Pada dekade 1970-an awal, lanjut dia, penumpang KA jalur Yogyakarta-Magelang mulai menyusut. Seiring dengan dibukanya proyek jalan yang berimbas semakin banyaknya kendaraan bermotor baik pribadi maupun umum.

Jam keberangkatan fleksibel dan waktu tempuh lebih cepat, membuat penduduk beralih memanfaatkan bus untuk bepergian ke Magelang. Sehingga pada awal 1970 hanya ada dua rangkaian KA yang dioperasikan, KA Borobudur Express dan KA Taruna Express.

Dua KA ini memiliki tujuan dan segmentasi khusus. Hanya beroperasi pada akhir pekan, Borobudur Express ditujukan mengangkut wisatawan dari Yogyakarta yang hendak menuju Candi Borobudur/Magelang maupun sebaliknya.

Sedangkan Taruna Express digunakan khusus untuk taruna Akademi Militer Magelang yang akan bepergian ke Yogyakarta atau kembali ke barak saat liburan.

Sampai akhirnya, jalur rel KA Yogyakarta-Magelang berhenti beroperasi pada 1975. Penyebabnya adalah terputusnya jembatan Kali Krasak setelah diterjang banjir lahar hebat dari hulu Merapi. "Mungkin kalau (jembatan) Krasak engga jebol, jalur ini masih jalan (beroperasi) sampai sekarang," tukas Sukarjo.

Viaduct Ganjuran

Dari rumah Sukarjo, Tribun melanjutkan penelusuran ke arah Tempel. Setelah Stasiun Medari, jalur rel KA melintas ke utara. Kini bekas lintasan itu telah dipadati permukiman penduduk, persawahan dan ladang.  Jalur tersebut kemudian memotong jalan setapak yang digunakan penduduk. Sebab itu, NIS membuat viaduct atau lebih dikenal dengan underpass atau warga menyebutnya terowongan Ganjuran.

Kini bangunan tersebut masih menyisakan pondasi beton dan dinding tebal. Jalur rel yang dulu melintas lebih tinggi dari tanah atau jalan setapak. Namun kini tanah tersebut sudah rata dengan jalan setapak maupun ladang di sekitarnya.

Underpass Ganjuran sampai saat ini masih digunakan warga untuk melintas. Meski berada di tengah areal ladang dan sawah, namun lalu lintas di lokasi ini cukup ramai ketika siang. Karena menghubungkan langsung dengan Jalan Raya Magelang di sebelah timur.

Beranjak ke utara, bekas jalur rel KA Yogyakarta-Magelang dapat dijumpai di Dusun Cungkuk Kidul. Sama seperti di kampung Sitisewu, bekas lintas rel dimanfaatkan warga menjadi sebagai gang di pemukiman yang cukup padat.

Halaman
12
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved