Klenteng Poncowinatan Dirusak Orang Tak Dikenal

Satu lagi bangunan cagar budaya (BCB) di Yogyakarta yang dirusak.

Klenteng Poncowinatan Dirusak Orang Tak Dikenal
TRIBUNNEWS.COM/HENDY KURNIAWAN
Patung Kilin klenteng Poncowinatan yang dirusak
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Satu lagi bangunan cagar budaya (BCB) di Yogyakarta yang dirusak. Setelah SMA '17'1 yang merupakan bekas markas tentara pelajar, kini Klenteng Tjen Ling Kiong atau akrab disebut Klenteng Poncowinatan, dirusak sekelompok orang tak dikenal pada Senin (24/6) dini hari.

Menurut pengurus Klenteng Poncowinatan, Margo Mulyo yang ditemui Rabu (26/6), akibat pengrusakan itu dua patung Kilin yang ada di depan pintu utama rusak. Patung di sebelah timur rusak di bagian tiga taringnya, sedangkan empat taring dan bagian hidung Kilin sebelah barat mengalami kerusakan serupa.

"Pelaku menghantam menggunakan godam (palu besi besar) setelah melompati gerbang depan," ujar Margo, yang mendapat informasi kejadian ini dari seseorang yang enggan disebutkan identitasnya. Setiap malam, Klenteng yang berada persis di utara Pasar Kranggan ini memang tidak memiliki penjaga khusus.

Lebih lanjut Margo menguraikan, pelaku diperkirakan mencapai sepuluh orang yang berboncengan menggunakan lima sepeda motor. Namun hanya dua orang yang masuk ke komplek klenteng dan juga masuk ke teras setelah melompati pagar pintu utama.

Awalnya, Margo mengetahui ada yang tidak beres pada Senin (24/6) sore. Saat diirinya duduk di teras klenteng, ia mendapati pecahan konblok seukuran batu bata lengkap dengan serpihannya. Seakan, barang itu hendak digunakan untuk melempar atau menghantam.

Setelah ditelisik, ternyata benar ada kerusakan yang terjadi pada dua patung Kilin yang dibuat dari batu kali utuh. Seketika itu pula, Margo melapor ke Polsek Jetis untuk kemudian dilakukan olah tempat kejadian perkara. Ditambahkannya, para pelaku ini diketahui membawa senjata tajam sejenis pedang saat malam kejadian itu.

"Sampai saat ini belum ada informasi mengenai motif perusakan ini. Tapi menurut saya yang jelas mereka tidak mau mencuri, sepertinya memang murni mau merusak saja," tukas Margo.

Namun demikian, dari informasi yang diterimanya, satu dari dua orang yang masuk dan memukulkan godam pada patung Kilin sempat mengalami cidera lantaran terjatuh saat mencoba keluar dari teras klenteng dengan cara memanjat pagar setinggi tubuh orang dewasa ini.

"Saya sih tunggu saja. Kalau benar orang itu sakit, pasti akan datang ke sini untuk meminta maaf. Karena diobati dimanapun sakitnya tidak akan sembuh. Entah dia mengalami patah tulang atau cuma keseleo," tutur Margo.

Klenteng Poncowinatan merupakan BCB yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2007. Selain itu, rumah ibadah kaum Tri Dharma yakni Budha, Kong Hu Cu dan Taoisme ini masuk dalam kawasan cagar budaya Malioboro.

Penghargaan pelestarian warisan budaya pun diterima Klenteng Poncowinatan dari Gubernur DIY pada 2005 silam. Ditandai dengan dipasangnya prasasti yang ditandatangani Sri Sultan HB X di tembok sisi barat ruang utama.

Menanggapi kejadian perusakan ini, Dinas Kebudayaan DIY bertindak cepat dengan melakukan rapat dengan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan koordinator pengawas PPNS dari Polda DIY, Rabu (26/6) sore.

Hasilnya, terlebih dulu akan dilakukan koordinasi dengan pengelola klenteng apakah bersedia dilakukan penyeledikan lebih lanjut atau hanya akan melaukan perbaikan pada kerusakan yang ditimbulkan.

Kepala Bidang Sejarah Purbakala Dinas Kebudayaan DIY, Nursatwika menjelaskan, perusakan terhadap benda cagar budaya tidak bisa hanya ditangani oleh kepolisian. Tapi harus melibatkan PPNS dari pihak-pihak terkait yang berkompeten dalam penyelematan cagar maupun warisan budaya.

"Hari ini (besok) kami akan koordinasi dengan pengurus klenteng. Kami sarankan agar kasus ini tetap diproses, agar masyarakat menghargai cagar budaya," tegasnya.

Dipaparkan Nursatwika, perusakan berat terhadap benda cagar budaya akan diancam dengan hukuman pidana minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun, termasuk denda antara Rp 500 juta sampai Rp 5 miliar. (hdy)

Penulis: hdy
Editor: evn
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved