Mendikusikan Jurnal Ilmiah
Mahasiswa perlu dibudayakan menulis sejak awal kuliah
KEGIATAN Geography Discussion Academy1 diselenggarakan oleh Bidang Pengembangan dan Penelitian (Litbang) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Diskusi pada hari Jumat, 30 Maret 2012, dengan tema Pro-Kontra Jurnal Ilmiah Sebagai Syarat Kelulusan S1, ini menghasilkan beberapa pertimbangan.
Pertama, opposing views atau pandangan yang menolak program Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) ini salah satunya karena penentuan kelulusan merupakan otonomi setiap perguruan tinggi (PT). Tidak hanya itu, opini masyarakat yang dinilai terlalu tergesa-gesa, mendadak, dan memaksakan, semakin menambah alasan penolakan terhadap rencana kebijakan ini. Kedua, secara rasional juga akan memunculkan jurnal abal-abal dan penumpukan mahasiswa di PT tertentu karena belum lulus publikasi jurnalnya.
Pandangan berbeda terlihat pada pihak pro yang memang tergolong minoritas dibandingkan dengan pihak kontra. Menurut mereka, selain bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi, juga bisa mengontrol budaya plagiarisme di kalangan mahasiswa.
Bukan dalih hanya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia saja, tetapi budaya menulis inilah yang perlu ditekankan. Tentu dua hal ini akan semakin menguatkan bahwa budaya menulis bagi mahasiswa sebagai calon intelektual wajib dibina sejak kuliah. Target jangka panjang untuk meningkatkan kualitas output lulusan PT juga menjadi alasan utama bahwa publikasi jurnal ilmiah layak menjadi syarat kelulusan S1.
Dari diskusi yang telah dilaksanakan, ada beberapa solusi untuk menengahi permasalahan ini. Pertama, sebaiknya program ini dilakukan secara bertahap untuk PT dengan akreditasi A dan seterusnya. Kedua. waktu yang cukup untuk sosialisasi juga penting karena memang tidak mudah agar bisa menjangkau seluruh PT di Indonesia.
Program pelatihan ilmiah dari Dikti bagi mahasiswa sudah selayaknya diagendakan dan dilaksanakan, mengingat masih ada juga mahasiswa yang belum tahu apa itu jurnal ilmiah. Seperti di UNY, masih perlu diadakan sosialisasi, penyediaan media yang akan menampung jurnal, dan tindak lanjut realisasi hasil jurnal ilmiah itu sendiri.
Pada intinya, kami sebagai mahasiswa harus mulai membiasakan menulis, baik artikel, penelitian, bahkan menulis buku. Dengan demikian, kesan menulis, memuatkan, dan menerbitkan jurnal ilmiah sudah menjadi hal biasa dan terpupuk pada mahasiswa. Entah pada akhirnya kebijakan ini akan diberlakukan atau tidak, para mahasiswa sudah saatnya membuka mata dan mempersiapkan diri, mengupayakan, bahwa dengan cara ini setidaknya bisa memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia tercinta. (www.tribunjogja.com)