Citizen Journalism
Belajar Nonton Teater
Ayoo nonton teater..
BAGI kebanyakan orang, menonton pentas teater belum menjadi pilihan. Maklum, tontonan ini memerlukan `kerutan dahi' alias pemahaman tersendiri. Pentas teater kadang diidentikkan dengan sesuatu nan absurd, nun jauh di awang-awang sehingga sulit dipahami. Tidak mengherankan bila penikmat teater hanya kalangan tertentu, yang benar-benar memahami `napas teater'.
Bila orang dewasa saja butuh usaha keras untuk bisa menikmati sebuah pentas teater, apalagi anak-anak. Namun, pertunjukan Jogjabrodway mematahkan stigma tersebut.
Jogjabroadway merupakan salah satu menu yang ditawarkan dalam Kids&Family Fest The Jungle, 21-25 Maret 2012 di Jogjakarta Expo Centre (JEC). Pentas Jogjabrodway yang berbentuk operet-drama musikal merupakan angin segar bagi dunia pertunjukan di Yogyakarta. Penonton awam, seperti saya, tidak begitu ngeh bahwa pertunjukan ini berbau teater, karena dibesut Garasi Enterprise.
Operet `Putri Embun dan Pangeran Bintang' memang klise, seperti kisah cerita anak-anak kebanyakan yang berisi tokoh hitam-putih. Namun, operet ini menjadi unik karena kostum dan propertinya lain dari yang biasa, yakni menggunakan peranti dapur. Kostum tokoh `Bunga', misalnya, menggunakan piring plastik warna-warni, dan jari-jemari dihiasi sendok serta garpu.
Ada tokoh `Kakek Meja', yang menenteng meja tamu di punggungnya lengkap dengan taplak dan vas bunga serta pasangannya, tokoh `Nenek Kursi ', mengenakan kursi di lehernya. Tokoh antagonis, si penculik Putri Embun, tampil ala Kura-Kura Ninja dengan kostum penuh wajan alias penggorengan di tubuhnya. Sementara tokoh panci, si penyelamat sang putri, tubuhnya full peranti dapur berbahan aluminium (soblok, dandang, kalo dan sebagainya). Kedua tokoh ini sama kerennya dengan tokoh robot yang selama ini biasa kita lihat.
Pertunjukan berdurasi satu jam, dikemas dengan begitu manis dan atraktif. Gedung Arjuna Lt II JEC disulap sedemikian rupa (dari depan ke belakang tempat duduk dibuat semakin tinggi), sehingga mendekati representatif untuk tontonan pementasan teater. Meskipun demikian,banyak penonton kurang leluasa menikmati panggung, apalagi anak-anak, karena pandangan terhalang penonton di depannya. Maklum, mayoritas penonton membeli tiket `kelas ekonomi rakyat' .
Jogjabroadway merupakan salah satu alternatif tontonan menarik sekaligus bisa menjadi pintu masuk untuk belajar menikmati seni (musik, tari, penataan setting panggung, dan lain-lain). Seseorang yang mempunyai jiwa seni, biasanya bukan hanya mencintai keindahan, kehalusan dan keselarasan namun kadang juga akan mempunyai pemikiran alternatif sehingga senantiasa inspiratif dan bisa sekaligus inovatif. (www.tribunjogja.com)