Poster Promosi Drama Korea Netflix Dirujak Netizen Habis-Habisan

Bukan karena alur cerita menarik yang dikeluarkan, melainkan dirujak karena poster promosi drama yang tampak biasa saja

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
DOK. TechRadar dan Netflix
Foto ilustrasi aplikasi Netflix di smartphone 

Ringkasan Berita:
  • Poster promosi drakor Netflix dikritik netizen karena terlihat biasa dan kurang estetik.
  • Masalah utama ada pada pemilihan warna, tata letak, dan kualitas edit foto.
  • Netizen berharap Netflix lebih serius dengan desain sebab poster juga menjadi wajah utama drama.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Netflix merupakan salah satu platform streaming berlangganan populer yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di belahan dunia manapun.

Mulai dari drama, film, hingga variety show, Netflix hadir menyuguhkan berbagai genre tontonan yang dapat dinikmati hanya melalui gawai portabel yang tersambung ke internet saja

Platform yang didominasi warna hitam dan merah ini tanpa sadar telah mencetak standar tersendiri dalam membuat tayangan yang berkualitas.

Sebut saja beberapa judul drakor orisinal yang diproduksi mandiri oleh Netflix.

Terdapat Celebrity yang rilis pada tahun 2023, Queen of Tears yang rilis pada tahun 2024, dan The Trauma Code: Heroes on Call yang rilis pada tahun 2025.

Bahkan all time favorite, Squid Game, juga merupakan drama keluaran platform Amerika ini.

Baca juga: SPOILER dan Penjelasan Ending Squid Game 3, Siapa yang Bertahan di Permainan Terakhir?

Mr. Plankton | Genie, Make a Wish | No Tail to Tell
Mr. Plankton | Genie, Make a Wish | No Tail to Tell (Netflix)

Baru-baru ini, Netflix menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh netizen.

Bukan karena alur cerita menarik yang dikeluarkan, melainkan dirujak karena poster promosi drama yang tampak biasa saja.

Saking biasanya, beberapa netizen bahkan mengira jika poster tersebut adalah poster buatan fans

Tulisan nampak memenuhi layar poster dengan ukuran yang kurang pas secara estetis.

Kombinasi warna yang dipilih juga terlalu kontras, sehingga bukannya menarik perhatian malah terlihat seperti poster kampanye.

Elemen hiasan yang dipilih untuk memenuhi poster juga tidak menunjukkan keseimbangan.

Adakalanya kombinasi latar beserta hiasan yang disematkan terlalu sepi, sehingga menghasilkan poster yang terlalu polos.

Ada juga kesempatan lain dimana latar belakang beserta hiasan yang dicantumkan terlalu penuh dan ramai, sehingga fokus observasi poster malah terpecah belah.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved