Soroti Krisis Hak Generasi Terkini, Rocky Gerung Sebut Jogja Bisa Jadi Benteng

Normanya adalah 20 persen untuk pendidikan. Faktanya? Diambil untuk Dana Desa. Tapi, Dana Desa pindah jadi Makan Bergizi Gratis (MBG)

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
HAK GENERASI: Suasana forum Public Lecture Series 002 yang diinisiasi Pandu Negeri, di Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Yogyakarta, Senin (16/2/26). 
Ringkasan Berita:
  • Dalam forum Public Lecture Series 002, pengamat politik Rocky Gerung membedah apa yang disebut sebagai kejahatan terhadap hak generasi.
  • Salah satu fokus utamanya karut-marut kebijakan anggaran pendidikan yang danggap sudah melenceng sangat jauh dari khitahnya.
  • Ia berharap, Yogyakarta senantiasa menjadi benteng pemikiran yang kritis dan tidak mudah tunduk pada pragmatisme kekuasaan semata.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Suasana Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Kota Yogyakarta, mendadak riuh, Senin (16/2/26) sore.

Ratusan intelektual muda, mulai mahasiswa, aktivis, hingga akademisi, tampak berkumpul untuk menyerap orasi dari pengamat politik Rocky Gerung.

Namun, kedatangannya dalam forum Public Lecture Series 002 yang diinisiasi oleh Pandu Negeri itu bukan sekadar mengkritik, melainkan membedah apa yang disebut sebagai kejahatan terhadap hak generasi. 

Karut-marut kebijakan anggaran pendidikan 

Salah satu fokus utamanya adalah karut-marut kebijakan anggaran pendidikan yang danggap sudah melenceng sangat jauh dari khitahnya.

​"Normanya adalah 20 persen untuk pendidikan. Faktanya? Diambil untuk Dana Desa. Tapi, Dana Desa pindah jadi Makan Bergizi Gratis (MBG)," ucapnya.

Melalui "kuliah umum" tersebut, Rocky pun menitipkan pesan mendalam untuk publik Kota Pelajar, supaya konsisten menjaga marwah daerahnya.

Yogyakarta jadi benteng

Secara gamblang ia berharap, Yogyakarta senantiasa menjadi benteng pemikiran yang kritis dan tidak mudah tunduk pada pragmatisme kekuasaan semata.

​"Saya percaya Yogyakarta bisa menghalangi makhluk-makhluk pragmatis, makhluk-makhluk rakus, untuk merampas hak generasi di sini," ungkapnya.

Sementara Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyebut, masalah utama bangsa bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan perubahan pola pikir.

Dirinya pun sepakat, bahwa pendidikan tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja untuk pasar, tapi harus mampu memanusiakan manusia.

"Pendidikan harus kembali pada esensi memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak faktor produksi untuk kepentingan pasar," ujarnya. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved