Hari Kesetaraan Perempuan 26 Agustus, Ternyata Ini Muasalnya
Indonesia punya R.A. Kartini, Amerika punya Elizabeth Cady Stanton. Setiap 26 Agustus, AS memperingati Hari Kesetaraan Perempuan.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM- Jika Indonesia memiliki R.A.Kartini, Dewi Sartika dan maka Amerika Serikat juga memiliki tokoh serupa yang memperjuangkan hak-hak wanita, sebut saja Elizabeth Cady Stanton dan Lucretia Mott.
Setiap tanggal 26 Agustus, Amerika Serikat memperingati Hari Kesetaraan Perempuan atau Women’s Equality Day.
Momen ini bukan sekadar perayaan simbolis, melainkan pengingat akan panjangnya perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak-hak yang sama, terutama dalam politik, ekonomi, dan kehidupan sosial.
Sejarah Panjang Perjuangan Hak Perempuan
Perjuangan kesetaraan perempuan di Amerika berakar sejak abad ke-19.
Kala itu, perempuan tidak memiliki hak yang setara dengan laki-laki, baik dalam kepemilikan properti, pendidikan, maupun pekerjaan.
Bahkan, upah yang mereka terima hanya setengah dari upah laki-laki meski melakukan pekerjaan yang sama.
Tonggak sejarah pertama dimulai pada Konvensi Hak Perempuan di Seneca Falls, New York tahun 1848.
Tokoh-tokoh seperti Elizabeth Cady Stanton dan Lucretia Mott menjadi pelopor dalam menuntut kesetaraan hak, termasuk hak pilih.
Namun, perjuangan tidak berjalan mudah.
Usulan Amandemen ke-19 yang diajukan pada tahun 1878 sempat ditolak.
Hingga baru mendapat dukungan kuat setelah kontribusi besar perempuan dalam Perang Dunia I.
Akhirnya, pada 18 Agustus 1920, Amandemen ke-19 disahkan, secara resmi memberikan hak pilih kepada perempuan Amerika.
Meski demikian, perjuangan belum benar-benar berakhir, karena perempuan kulit hitam dan kelompok minoritas lain masih menghadapi diskriminasi hingga puluhan tahun berikutnya.
Proses Penetapan Women's Equality Day
Hari Kesetaraan Perempuan resmi ditetapkan pada tahun 1971 melalui usulan Bella Abzug, seorang anggota kongres perempuan dari New York.
Dua tahun kemudian, Kongres AS mengesahkan resolusi yang menjadikan 26 Agustus sebagai peringatan tahunan.
Sejak masa pemerintagan Richard Nixon, setiap presiden AS rutin mengeluarkan proklamasi untuk memperingatinya.
Women's Equality Day bukan hanya mengenang pengesahan Amandemen ke-19, tetapi juga menjadi simbol perjuangan berkelanjutan untuk melawan diskriminasi dan memperkuat peran perempuan di berbagai bidang.
Tantangan dan Perjuangan Kesetaraan Gender yang Masih Berlanjut
Peringatan Hari Kesetaraan Perempuan mengingatkan kita bahwa perjuangan belum selesai.
Hingga kini, masih ada banyak tantangan besar yang harus dihadapi para perempuan, antara lain:
- Kesenjangan Upah. Di banyak negara, perempuan masih menerima bayaran lebih rendah untuk pekerjaan yang setara.
- Minimnya Representasi Politik. Jumlah perempuan dalam posisi kepemimpinan masih jauh lebih sedikit dibanding laki-laki.
- Diskriminasi di Tempat Kerja. Pelecehan, hambatan karier, dan stereotip gender masih membatasi ruang gerak perempuan.
- Beban Ganda. Perempuan masih banyak mengemban tanggung jawab rumah tangga sekaligus bekerja di sektor publik.
Dengan demikian, Hari Kesetaraan Perempuan bukan hanya soal sejarah, melainkan juga gerakan berkelanjutan untuk mewujudkan kesetaraan gender yang nyata di berbagai aspek kehidupan.
Cara Merayakan Hari Kesetaraan Perempuan
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk ikut merayakan dan memaknai 26 Agustus, di antaranya dengan menyuarakan dukungan di media sosial menggunakan tagar #WomensEqualityDay.
Anda juga dapat mengikuti seminar atau diskusi publik tentang kesetaraan gender, mengikuti atau mendukung organisasi perempuan, juga meningkatkan kesadaran di tempat kerja dengan memberikan pelatihan tentang kesetaraan gender.
Atau dengan cara sesederhana menghargai kontribusi perempuan di sekitar kita dengan memberikan dukungan nyata.
Baca juga: Cerita Perempuan di Nganjuk Didatangi Debt Collector Saat Bawa Mobil Rental
Lebih dari satu abad setelah Amandemen ke-19 disahkan, perempuan di seluruh dunia masih berjuang menghadapi diskriminasi dan sering kali belum menikmati hak yang sama.
Tokoh-tokoh besar seperti Susan B. Anthony, Elizabeth Cady Stanton, hingga Ida B. Wells-Barnett telah membuka jalan panjang bagi perempuan modern.
Namun, pekerjaan besar tetap menanti generasi berikutnya untuk memastikan kesetaraan benar-benar dirasakan semua kalangan.
Hari Kesetaraan Perempuan pada 26 Agustus adalah momentum penting untuk menghormati para pelopor yang telah berjuang demi hak perempuan.
Namun lebih dari itu, hari ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender penuh masih terus berlangsung.
Dengan menghargai sejarah, memperjuangkan kesetaraan, dan mendukung perempuan di berbagai bidang, kita bisa bersama-sama mewujudkan dunia yang lebih adil bagi semua orang, tanpa memandang jenis kelamin.
(MG/Sabbih Fadhillah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Wanita-Anggun.jpg)