The Post-Naissance, Eksplorasi Musik dan Seni Visual ala Marsmolys
Batas antar-medium seni hari ini kian runtuh. Musik tidak lagi sekadar untuk didengar, tetapi juga bisa dilihat, disentuh, dan dialami secara visual.
Penulis: Santo Ari | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Batas antar-medium seni hari ini kian runtuh. Musik tidak lagi sekadar untuk didengar, tetapi juga bisa dilihat, disentuh, dan dialami secara visual.
- Inilah yang mendasari Marsmolys, band psychedelic rock asal Yogyakarta, saat menggelar pameran seni rupa bertajuk ‘Post Naissance’ di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1–13 Juni 2026).
- Upaya berani ini dipuji oleh Dosen FSR ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, sebagai bentuk keberanian menembus batas ekspresi.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Batas antar-medium seni hari ini kian runtuh. Musik tidak lagi sekadar untuk didengar, tetapi juga bisa dilihat, disentuh, dan dialami secara visual.
Fenomena inilah yang mendasari Marsmolys, band psychedelic rock asal Yogyakarta, saat menggelar pameran seni rupa bertajuk ‘Post Naissance’ di Galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (1–13 Juni 2026).
Langkah berani ini dipuji oleh pengamat seni sekaligus Dosen FSR ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, sebagai bentuk keberanian menembus batas ekspresi. Pameran ini sekaligus menjadi bukti bahwa musik dan seni visual adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Gagasan pameran unik ini berawal dari hal yang tidak terduga. Setelah Marsmolys merilis album ‘The Progeny of Holy Moly’ di akhir tahun lalu, publik justru memberikan respons yang sangat ramai terhadap artwork albumnya.
“Banyak teman-teman yang lebih merespons artwork-nya. Dari situ muncul obrolan, kenapa nggak bikin pameran sekalian,” ujar Yoga Bhakti (Backing Vocal & Guitar).
Meskipun sempat mendapat nada skeptis, seperti anggapan bahwa sebuah band seharusnya hanya manggung di atas penata suara, Marsmolys membuktikan sebaliknya. Diproduseri secara natural dari rekaman pengalaman sehari-hari para personelnya, visual album bergaya kolase surealis ini sukses diterjemahkan ke dalam ruang galeri.
Sebanyak 16 hingga 18 seniman lintas disiplin diundang untuk merespons lagu-lagu Marsmolys secara bebas. Hasilnya adalah ruang pameran yang kaya, menampilkan instalasi perjalanan band, alat musik, hingga karya dua dan tiga dimensi yang merepresentasikan makna ‘Post Naissance’ sebuah refleksi tentang apa yang dilakukan manusia setelah terlahir kembali.
Pameran Post Naissance tidak berhenti pada pajangan visual di dinding galeri. Diinisiasi sebagai ruang pertukaran informasi yang hidup, acara ini memperpanjang nafasnya melalui empat program publik kolaboratif, mulai dari bersepeda bersama hingga ruang edukasi.
Beberapa program publik yang sukses mencuri perhatian seperti Workshop "How to Build and Run Media’ yang Menghadirkan jurnalis musik Desta Wasesa dan periset berita Kresentia Madina. Workshop ini membedah seluk-beluk pengelolaan media independen di tengah gempuran algoritma modern. Diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang termasuk mahasiswa, kreator konten, hingga pegiat komunitas dari luar kotaruang ini menjadi ajang diskusi kritis mengenai peran media dalam menyebarkan informasi di balik hiruk-pikuk isu sosial.
Bagi Desta Wasesa, workshop ini memiliki keterkaitan dengan gagasan yang diangkat The Post-Naissance, yaitu tentang apa yang lahir setelah sebuah proses berlangsung dan bagaimana nilai-nilai baru terus dibentuk.
“Workshop kemarin itu sesuai dengan semangat yang diusung pameran The Post-Naissance tentang pasca kelahiran, di mana nilai-nilai baru membentuk media hari ini. Workshop kemarin memperkuat fondasinya di tengah algoritma yang mendorong kita menjadi mesin produksi,” kata Desta.
Kegiatan lainnya adalah Workshop ‘Stage Production’. Berkolaborasi dengan Berkah Jaya Rebel dan Molytech, sesi ini mengupas tuntas persiapan teknis di balik layar sebelum sebuah pertunjukan musik berlangsung berdasarkan pengalaman riil di lapangan.
Adapula Sesi Podcast bersama Amir dan Jiwe dari Gaduh Podcast, sesi santai ini membedah proses kreatif di balik lahirnya album ‘The Progeny of Holy Moly’ serta bagaimana sebuah karya musik mampu berkembang melampaui medium bunyinya sendiri.
Melalui pameran dan rangkaian program publik ini, Marsmolys berhasil membuktikan bahwa sebuah album musik bisa menjadi pemantik bagi ekosistem kreatif yang lebih luas.(nto)
| Catat, Ini Skema Pengalihan Arus Lalulintas saat Aksi 'Rakyat Memanggil' di Gejayan |
|
|---|
| 8 Tuntutan dari Aliansi Rakyat Memanggil, yang Sore Ini Berencana Aksi di Gejayan |
|
|---|
| Ireland’s Eye 2026 Hadir di Yogyakarta, Tampilkan Jejak Lanskap Irlandia dalam Seni Kontemporer |
|
|---|
| Gelombang Demo di Jakarta hingga Jogja, Peringatan Keras bagi Rezim Prabowo - Gibran |
|
|---|
| Aksi Teatrikal Sapu Uang Mainan di Depan Kantor BPN Sleman: Simbol Bersih-bersih Pungli |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Marsmolys-band-psychedelic-rock-asal-Yogyakarta-gelar-pameran-seni-rupa-bertajuk-Post-Naissance.jpg)